Puisi Hisyam Billya Al-wajdi

Rumput Namaku rumput. Aku dilahirkan dari tunas ibu yang telah mati layu. Kini aku tinggal di pinggir jalan hari-hari kuhabiskan dengan bersitahan dari hawa panas yang membakar dan hibuk perkotaan. Di pagi hari biasanya aku disuguhi kepulan asap kendaraan, bising klakson jalanan atau kemacetan yang menjalar dari ujung ke ujung. Aku rumput yang sebentar lagi dipangkas oleh petugas, katanya aku ini liar dan musti di berantas, wajahku menganggu keindahan kota, pakaian yang membalutku ku mungkin hijau namun bukan berarti aku alami. Tata ruang kota tak lagi membutuhkan aku, mereka lebih…

Read More
Cerpen 

Suatu Sore Bersama Hadi

CERPEN: IWAN KURNIAWAN | @blogiwank Stasiun-stasiun televisi ribut menyiarkan perebutan kursi ketua partai. Telepon genggam Robert, asisten Mas Iwan, berdering-dering terus. Para wartawan berebutan meminta waktu untuk mewawancarai bosnya. Robert menengok ke Mas Iwan, yang masih duduk di sofa menonton salah satu stasiun TV yang menayangkan acara bincang-bincang yang membahas hal tersebut.

Read More

Aku Pernah Membayangkan:Puisi Hisyam

Aku Pernah Membayangkan Aku pernah membayangkan diri menjadi seorang raja di kota venesia,duduk diatas singgasana berlabis emas sembari menyaksikan sore dengan lanskap gondola yang berjalan perlahan. Aku juga pernah membayangkan diri menjadi nelayan kecil yang berangkat melaut saat fajar menyingsing dan pulang ketika matahari mulai tenggelam.Berjalan menuju rumah mengendong rasa lelah dan memasang raut wajah orang yang kalah karena tak membawa hasil tangkapan seekorpun juga. Aku juga pernah membayangkan diri menjadi seorang bajak laut mengarungi lautan,menaklukan gelombang dan memandikan diri dengan asin garam.Menjadi bajak laut yang disegani sekaligus di takuti,menghabiskan…

Read More

ketika kau memetik hari

    ketika kau memetik hari Ragil Kristya Aji | @_______ragil (i) pagi ketika kau terbangun dari kasur. dari luar tubuh kau dapati suara yang seakan memecah tubuh kau jadi dua. bujukan yang serta merta rambu; mengingini kau jadi pengendara kuda kayu. sementara kau ingin untuk tidak jadi siapa-siapa. lantas, kau lebih memilih jadi daging yang pecah. (ii) pagi saban kau terbangun dari tidur. senantiasa kau cari di mana bagian—untuk kau elus dan dekapi—pecahan tubuh yang satunya. bagian yang lebih lama mengakrabi mala. ingin kau berikan bunga tidur yang kau…

Read More
Puisi 

Umbu Landu Paranggi

Puisi Umbu Landu Paranggi ditulis oleh Mahwi Air Tawar pada 2014, diturunkan sebagai penghormatan kepada Umbu yang meninggal di Bali pada 6 April 2021 dalam usia 77 tahun. Umbu, yang digelari sebagai Presiden Malioboro, lahir di Sumba, pada 10 Agustus 1943. Dalam puisi ini, ada beberapa bait yang dielaborasi dari puisi penyair Iman Budhi Santosa, Emha Ainun Najib, WS. Rendra, Ragil Suwarna Pragolapati, dan Umbu Landu Paranggi.

Read More
Cerpen 

Mimpi-Mimpi Senapati

CERPEN: Sarah Monica Angin menghembuskan hawa panas membara. Di luar, wajah malam merona menyala. Api dan asap menjulang dari pucuk-pucuk rumah maupun pepohonan. Percikannya menantang apa yang ada di langit dan di bumi. Senapati perlahan memperhatikan sekelilingnya. Dia mulai menyadari keberadaannya di sebuah kamar temaram, hanya diterangi oleh cahaya kemerahan yang menerobos dari jendela. Di hadapannya, sebuah ranjang menopang tubuh telanjang seorang perempuan yang tengah hamil tua. Perempuan tersebut menatapnya, lalu menunjuk ke jendela, ke arah potret kebakaran desanya.

Read More
Cerbung 

Janda 7 Lelaki

“Janda 7 Lelaki” karya : Uki Bayu Sedjati & Astrid Suryapringga Judul harus “eye catcher” – begitu satu dari sekian syarat utama yang wajib diketahui dan dilakukan oleh penulis. Tentu saja judul bukan sembarang diunggulkan jika tak sebagus materi isinya. Dengan kata lain judul bukan hanya pemikat, namun juga menjerat siapapun untuk semakin tertarik dan mengikuti cerita-kisah-imaji sampai usai, sampai tuntas. “Janda 7 Lelaki” memang demikian adanya. Kisah perkawinan – dan perceraian – di beberapa wilayah entitas budaya Nusantara selalu menarik untuk diketahui, dicatat, meski kemudian banyak yang tak disimak…

Read More

PUISI-PUISI HISYAM BILLYA

  IKALIKAL MR.2 Tak ada kata perpisahan di kehidupan okama Bon chan,gerbang keadilan itu hampir sempurna,memisahkan kita Kapal dan meriam tak lagi menghujani Bon chan- Aku slalu percaya Serbuk-serbuk di Alabasta -Nyawamu matahari Nyawaku bintang-bintang Dan daun Murbei itu terlepas Aku akan bergegas Bon chan Aku percaya bahwa ada bunga yang tumbuh di neraka, di laut yang jauh ini,kau… Mengutup arahku Jinakan angin dan gelombang Bon chan,gerbang akan tertutup Slamat tinggal Arigatou 2020   Di (mizi) don quixote Kincir itu seperti dawai,memetik lembut angin “Kita harus beranjak sancho” Langit tak…

Read More
Cerbung 

Rahasia Hitam Abak

SEPRIANUS | @seprianus5817 | seprianus81@gmail.com Entah sampai kapan Ratih akan merindukan Mak. Meski sudah tiga tahun berlalu, Ratih selalu merasa kalau Mak baru saja dikuburkan. Itu yang membuat air matanya tak kunjung mengering. Juga kesedihannya. Terlebih ketika setahun setelah Mak pergi, Abak malah meminta pendapatnya soal mencari istri lagi. Tentu saja Ratih tak akan pernah setuju. Baginya, Mak tidaklah mati. Mak akan selalu hidup di hatinya. Juga dalam pikiran dan kenangannya. Jadi, ketika Abak menanyakan pendapatnya soal menikah lagi, itu sama saja artinya Abak mengkhianati Mak. Itu jelas sangat menyakitkan.…

Read More
Puisi 

Apa Salahku?

Kicauan burung tersembunyi Guguran daun menari Lambaian pohon berbunyi Menyerang terik matahari “Apakah masih sama?” Jawabnya “tidak” Kini hanya ada kicauan burung dalam maya Kini hanya ada kulit kusam kami menyerang terik Kini hanya ada kumpulan sampah menari Seiring bunyi angin sepoi Apa salahku? Tak memberimu kehidupan? Tak memberimu asupan makan? “Lalu?” Abu terbang, menyesakan napas “Hey” Mematung manusia Menatap dia, sampah kering membara  Tak bersalah? Sadarlah!   [DFR] @coretan__davv

Read More