Puisi 

Perihal Kelam

KURNIAWAN JUNAEDHIE | kurniawan-junaedhie.blogspot.com

1/
Di bait terakhir sajakmu, ada
kata2 berlompatan. Sudah
kuduga kalimat itu menyeretmu
ke tengah semak dan
mencumbumu di balik onak

(2013)

2/
Di sela-sela rinyai hujan,
aku selalu mengobarkan
nyala, agar tubuhmu
tetap api bagiku.

(2013)

3/
Ada yang aneh malam ini.
Ada kamu yang hilang dalam angin.
Ada kata-katamu yang
meleleh seperti lilin. (2013)

4/
Di baris pertama sajakku, kamu
putih suci seperti lilin.
Di bait terakhir sajakku, kamu
menjadi orang lain.

(2013)

5/
Sajak terbangun dari mimpinya.
Di dalam mimpi, ia memergoki
kata-katanya tanggal satu demi satu.
Ini firasat buruk, pikirnya.

(2013)

6/
Ia ingin cintanya jadi yang
terakhir. Cinta yang mampu
mengerami luka dan usia,
saat penghabisan

(2013)

7/
Di mana suaramu? Di mana
kamu? Kurindukan,
kata-katamu yang
genit dan menggemaskan.

(2013)

8/
Ada yang aneh pagi ini. Tak ada
suaramu. Jaringan putus tiba-tiba.
Hanya raksasa yang mampu
menyembunyikanmu

(2013)

9/
Hari yang ganjil. Ada kamu yang
memanggil-manggil, tapi kata-katamu
leleh dlm kobaran lilin.

(2013)

10/
Aku hapal jalan menuju hatimu.
Belok kiri, balik kanan lalu lurus.
Hm, kunikmati liku-likunya

(2013)

11/
Sekeping hati terus berdenyut. Helaannya
mengalun panjang dan berirama.
“Aku pernah tak lelah bernafas
untukmu,” katanya.

(2013)

12/
Karena 1000 pesan singkatku
tak sampai padamu, izinkan
kupanah hatimu. Ia biasanya
lebih cepat dan tajam menancap
dibanding pisau.

(2013)

13/
Satu2nya kata terakhir yang
ingin dituliskan adalah cinta.
Satu2nya cinta terakhir yang
ingin dibuhulkan adalah
kamu.

(2013)

14/
Cuaca dingin membuat kita menggigil.
Aku pakai mantel dan
kamu kenakan sajak yang hangat
untuk membalut hatimu

(2013)

15/
Sudah Oktober, besok
November, lusa Desember.
Cinta itu tuli.
Kita kawin. Beranak cucu.
Hidup dimulai umur 60!

(2013)

16/
Apalah artinya 1000 pesan singkatku
yang tak kaubaca, dibanding
tetesan air mataku yang
tak kauraba.

(2013)

17/
Bahkan kenangan, ternyata
menusuk kalbu.
Ia memilih
menjelma debu.

(2013)

Related posts

Leave a Comment