Cerpen 

Samlun Gokil

IRFAN BUDIMAN | irfanbud.blogspot.com |

TEPAT pada peringatan seabad Piala Dunia, Uruguay dipilih menjadi tuan rumah. FIFA merasa perlu meniru IOC (International OlympicCommittee), yang membawa kembali Olimpiade ke Athena pada 2004. Semacampenghormatan, sebutlah begitu. Tak semua setuju, sebenarnya. Yunani lekatdengan Olimpiade karena tradisi itu pertama kali diselenggarakan di bukit Olympia, sedangkan sepakbola hampir tak punya rumah kecuali Inggris yang punya klaim football come home-nya,seperti yang dilakukan pada Piala Eropa 1996. Tapi rencana itu kemudian muluskarena prestasi Uruguay tidaklah buruk. Mereka kerap tampil di Piala Dunia, meski berkali-kali hanya numpang lewat. Uruguaypun hura-hura.

Kemeriahan pesta juga terjadi di sebuah di kawasan AsiaTenggara. Negeri besar tapi kerdil prestasi ini sebelumnya tak pernah mampir kePiala Dunia. Satu-satunya peluang untuk bisa tampil di kejuaraan akbar ituadalah ikut mencalonkan diri menjadi tuan rumah pada 2022. Hasilnya jeblok. Pemerintahtidak mendukung usaha itu. Bukan tanpa alasan tentu saja. Kalau becermin, masihbanyak kekurangan. Dana promosi yang kurang dan yang penting: prestasi negeriitu tak pernah mengkilap.

Nah, siapa nyana, pada 2030, kostum Dua Warna yang jadikebanggaan mereka, hadir di sana.Negeri ini lolos dengan meyakinkan. Semua lawan di babak penyisihan yangpanjang, maklum konfederasi Asia tidak jugabertambah jatah untuk tampil di Piala Dunia, dibantai habis. Gawang Puntung, sang kiper, tak pernahkebobolan. Tangannya kekar. Tangkapannya selalu lengket. Dia juga beranimenjemput bola sekalipun berada di kaki striker lawan. Pokoknya, gawang sepertirumahnya sendiri. Dia punya gembok lengkap dengan kuncinya.

Pemain belakang juga paten. Ada Ubro yang berkulit legam danjarang tersenyum. Yang ada di kepalanya adalah menyapu jauh-jauh setiap bolayang datang. Adu bodi tak pernah kalah. Di bagian tengah, berdiri Sukro yangtak pernah letih menjelajahi seluruh lapangan. Gerakan bicycle-nya, pun mantappunya. Lawan hanya bisa melongo melihat kakinya berputar-putar. Di sisi kanan,negeri ini punya Jamin. Pemain yang ahli dalam bola mati. Bolanya kerapmelambung tapi selalu melengkung dan mencari celah kosong di depan gawang. Kipermana pun kerap tertipu dengan laju bolanya.

Di depan, tenang saja ada Robus. Badannya keras dan kuatseperti kopi robusta. Rambutnya kribo, licik, dan jago diving. Tanganpemain belakang yang mau menjangkau malah sering terjatuh. Di depan gawang, diabagai belut yang tak bisa dijegal. Dan, kalau sudah menendang, tak ada yangbisa menahan. Bolanya kencang sekali. Kiper asal Australia, negeri dan tim yangjumawa, sekali waktu terpelanting ketika berusaha mengeblok bola hasil tendangannya.Tangannya patah dan dokter menyarankan untuk tidak bermain sepak bola lagi.Robus sampai mendapat persona non grata dari pemerintah Kangguru.

Limapemain ini bersahabat. Mereka, yang belum genap berusia 20 tahun, masih tinggalsatu rumah dan tinggal bersama si bapak tua. Namanya, Samlun. Pria berusia60-an ini adalah bapak angkat pemain-pemain itu. Kata Samlun, ibu merekamenyerahkan anak-anak itu di saat kecil. Mereka bukan pribumi asli, memang.Melainkan peranakan. Semua anak muda ini punya nama belakang Samlun.

Sosok Samlun begitu menggoda. Sesungguhnya sejak tampilberingas di babak awal, para jurnalis mencari tahu jati diri para pemain mudaitu. Namun Samlun selalu mengelak. Dia hanya berujar, ibu mereka adalah orangasli negeri ini.

Namun menjelang perhelatan itu dimulai. Persis seminggusebelum tim ini berangkat ke Uruguay,Samlun merasa harus buka suara. Dia hanya percaya pada beberapa media massa. Dia hanya maubicara pada stasiun televisi dan situs berita online yang nyatanya dimilikisatu bos yang sama: pengusaha yang ikut membiayai perjalanan tim nasional.

Di belakang rumahnya yang sejuk. Samlun menerima mereka.Tapi, Samlun memang nyentrik. Tanpa memberikan kesempatan jurnalis bertanya,dia sudah nyerocos duluan. Ini dia kisah Samlun.

Pada Maret 2010 dia terbang ke Eropa dengan enam wanita itu.Dia membawa seluruh kekayaannya. Jumlahnya tak terhingga. Saat itu, usianyabaru saja menclok ke angka 40, dia sudah menjadi juragan rumah petak di kawasanemas Ibu Kota. Itu yang terdaftar atas namanya. Di bawah tangan, dia masihmemiliki ribuan pintu kontrakan di seluruh negeri. Pendapatan receh tapiomzetnya tak terhitung.

Keberangkatannya ke Eropa, menurut dia, merupakan cara yangpaling tepat untuk membangun tim nasional. Pengalaman sebelumnya, mengajarkantidaklah mudah membuat tim sepak bola yang kuat. Banyak cara yang sudahdilakukan negeri ini.

Dahulu kala, kata Samlun lalu terdiam. Jurnalis mencobamencocokkan catatan dari hasil risetnya. Negeri ini pernah punya cara membanguntim sepak bola dengan mengirimkan para remaja untuk bertanding di Liga Eropa.Selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun ada di sana. Hasilnya? Ternyata masih kurang. Timnasional tak kunjung kuat. Lalu, ada kompetisi yang rutin — yang katanyamenjadi biang dari sebuah tim yang kuat, tak kunjung membuatkan hasil. Kecualimenghasilkan pemain yang harum di kandang dan lebih banyak tawuran, sedangkan prestasimasih jauh panggang dari api. Mobil Samlun malah pernah menjadi korban amukpendukung sebuah klub.

Karena cinta pada sepak bola, Samlun mulai berpikir. Satu diantaranya, membuat konfederasi baru. Dalam otaknya, negeri yang besar ini bisadipecah sementara menjadi 60 negara baru. Negeri kecil-kecil ini bisa membuatkonfederasi baru. Dengan jumlah yang sebanyak itu, FIFA pasti bisa meluluskanpermohonannya. Dalam pikiran Samlun, konfederasi baru ini bisa mendapatkan paling tidak satujatah ke Piala Dunia. Tepat pada waktunya, negara-negara kecil ini akanbergabung kembali di Piala Dunia menggunakan nama negara sebelum disintegrasi sandiwaraitu.

Namun diurut-urut lagi, pekerjaan itu tidak mudah. Samluntak pernah punya syahwat politik. Dia hanya juragan kecil. Bagaimana mungkinbisa menggalang dana dan massa. Dia mendengar untuk menjadi pemimpin partai saja, butuh dana miliaran rupiah.Mana mungkin, kata Samlun.

Adacara lain yaitu dengan mengambil pemain dari luar negeri. Dikasih uang laluberganti paspor. Naturalisasi, istilahnya. Biayanya pasti mahal tapi bolehlahuntuk mencetak tim kuat. Namun, Samlun menghapus ide di kepalanya itu. Baginya,itu sama saja punya tim cabutan. Bagi dia, pemainnya harus punya darah asli negeriini.

Di kepalanya dia ingin negeri ini punya tim sepak bola yangkuat. Berharap pada mereka para pengurus organisasi sepak bola, dia menggeleng.Kerja pengurus organisasi sepak bola dari tahun ke tahun, dia sama sekali takmelihat harapan. Dia tak mengerti cara kerja orang-orang di sana yang tak bisa menghasilkan tim yangbagus. Pengurusnya lebih sering muncul di televisi dalam urusan yang lain. Padahalnegeri ini punya banyak pemain. Supporter pun luar biasa. Mereka totalmemberikan dukungan. Kalau mereka diminta untuk mengumpulkan koin untuk menyewapelatih bagus dari luar negeri pun mereka pasti mau. Samlun merasa sakit hatiketika tim negerinya kalah dari negara yang baru belajar sepak bola. Hatinyamenangis.

Akhirnya dia punya ide brilian. Tapi dia tak mau buka mulut.Termasuk pada orang-orang dekatnya. Dia hanya minta dicarikan enam perempuanuntuk diajaknya berlibur ke Eropa. “Paling tidak dua tahun berada di sana,” katanya pada Koslan,salah satu orang kepercayaannya. Koslan ngedumel sendirian. Dasar gila,pikirnya. Samlun memang kerap dijuluki Gokil oleh teman-temannya, karenalangkahnya dianggap gila tak jarang juga menghalalkan segala cara. SamlunGokil, julukannya.

Samlun memang gila. Pada Koslan dia menitipkan syarat: paraperempuan itu mereka harus berwajah eksotik, fasih berbicara Inggris, danmengerti tata cara bergaul di dunia internasional. Soal jati diri dan biayahidup mereka akan tetap terjamin. “Pokoknya cari yang terbaik punya,” pesanSamlun.

Singkat kata Koslan berhasil mendapatkan semua pesanantuannya. Mereka berangkat ke Inggris, Italia, Spanyol, dan Jerman. Semuaperempuan itu ditanggung biaya hidupnya. Mereka juga diajari berbahasa dan carabergaya layaknya kaum jet set. Samlun sendiri yang menentukan ke mana sajamereka boleh pergi.

Tujuannya, ternyata, klub-klub malam yang kerap didatangipemain kelas dunia. Pelan-pelan mereka pun mulai bisa mendekati para bintangsepak bola dunia. Misi Samlun adalah mendapatkan keenam perempuan itu hamilakibat pergaulan dengan para bintang itu. Eh berhasil, enam perempuan itu hamil. Semula Samlun sempat ragu.

“Yakin?” kata Samlun. “Bagaimana bisa?” kejarnya lagi.
“Ya kalau mereka tidak sedang mabuk, mana mungkin Om,” kata mereka bersemangat.

Enam bulan berlalu, tak sampai harus menunggu sampai duatahun, Samlun dan keenam perempuan itu pulang ke negerinya. Samlun girang takkepalang. Apalagi setelah mengetahui keenam jabang bayi itu berkelaminlaki-laki. Setelah lahir, Samlun membesarkan anak-anaknya itu. Dan nyatanya menjadi lelaki yang punya bakatbermain sepak bola yang luar biasa.

Puntung, gempal tapi cekatan. Mirip Iker Casillas. Robus,tak beda dengan Sol Campbell. Sukro, sikapnya rada songong dan belagu.Tapi perawakannya mirip benar dengan Cristiano Ronaldo. Jamin selalu rendah hati. Persis sepertiDavid Beckham. Sedangkan Ubro si penyerang, pembawaannya pemberang. Bentukkepala dan warna kulitnya mirip benar dengan Didier Drogba. Mereka bermain diklub sepak bola yang dibuat Samlun. Namanya, Gokil FC – klub baru yang langsungmembuat kejutan di liga negeri itu.

Dasar bakatnya bagus, mereka yang masih muda: rata-rataberusia 20 tahun, menjadi pemain pilar negeri ini. Ditambah lima pemain terbaik dari liga negeri ini,cukuplah membuat tim nasional yang kuat. Buktinya, semua lawan terkapar.

Demikianlah cerita itu disampaikan Samlun. Hampir tak ada offthe record. Cerita Samlun telanjur membuat mereka terpesona. Mereka puntakjub. Tapi ada yang menggelitik satujurnalis.

“Bagaimana Anda bisa yakin kalau anak-anak itu punya bakatbagus. Diego Maradona yang hebat itu kanjuga punya banyak anak di luar nikah tapi tak satu pun yang menjadi pemainsepak bola hebat,” tanyanya kritis.

Samlun menggeleng tenang. Dia nyerocos lagi. Ada triknya Bro,panggilan akrab yang merupakan kependekan dari Brother. “Ibu darianak-anak bintang seperti Maradona kantidak punya genetik yang bagus sebagai pemain sepak bola. Secara teori, faktordominan si Ibu yang muncul. Bukan bapaknya.” Kalau perempuan ini, kata Samlun,mereka punya gen sepak bola. “Paling tidak ayah perempuan ini pernah bermainsepak bola terkam alias antar kampung,” katanya.

Ide gila ini ternyata terpicu oleh sebaris berita kecil diinternet. Yakni, soal Enrique Cerezo, Presiden Atletico Madrid yang inginmengontrak cucu Maradona, Benjamin menjadi pemain klub itu, pada saat masihberada dalam kandungan. Alasannya, kakek dan Sergio Aguero, bapak si bayi adalahpemain sepak bola yang bagus. Secara genetika bisa melahirkan pemain sepak bolayang berbakat.

Jurnalis itu kemudian hanya manggut-manggut. “Memang gilanih orang.” Tulisnya di buku notes kecilnya. Namun dia juga tersadar dengankejanggalan cerita Samlun. “Nanti dulu….. Katanya tadi ada enam perempuan yanghamil. Nah, yang satu lagi ke mana dia?”

Samlun tersenyum. ”Dari enam perempuan, saya lihat ada yangcakep. Enam bulan di sana kan, saya enggak tahan juga,” katanya sambilmesem genit.

Lalu jadi apa dia? “Perempuanitu bilang bapaknya seorang pedagang kelontong. Nah, bapaknya pengusaha rumahkontrakan. Ingat teori saya tadi? Secara genetika, akan menghasilkan keturunanyang bagus juga bukan?”

Samlun tersenyum lagi. Dia menyebut Kusmin, nama anaknya. Masihberusia 19 tahun, “Tapi dia begini….,” kata Samlun mengangkat jempol tangannya.“Dia sudah punya 20 pintu kontrakan.”

Depok, Maret 2010, dalam rangka menyambut Konggres Sepak Bola Nasional!

Related posts

Leave a Comment