Puisi 

Banowati: Sebab Cinta Tak Selamanya Bahagia

RYCO V. AMENITY | @iconessia |#blogsastra seribujari.blogspot.com

“Dari dan untuk Banowati”

Sesekali menghela napas sembari tersenyum, mungkin masih kurang sabarku,
bagai tak bernyawa, terlalu sering kecewa

Lantas apa yang kau pikirkan?
Mengingat kebaikannya

Lalu, apakah itu sudah membuatmu tenang?
Belum, sebelum beliau mengucap maaf dan merasa mengecewakanku tanpa aku menjelaskannya

Apa dia pasti mengucapkan maaf itu?
Atau kau akan menunggu sampai uban tumbuh di rambutmu?
Sejauh ini tak pernah terdengar maupun terlihat sebuah penyesalan
Aku menunggu sampai lupa pernah dikecewakan orang tersebut

Dia acuh, kau menunggunya, jika sudah lupa kemudian teringat lagi
Apa yang akan kau lakukan?
Memejamkan mata, mendengarkan musik yang lembut, menangis,
kemudian menuliskannya ke dalam lembar-lembar kekosongan
Hal yang tidak aku inginkan

Selalu dan selalu, seperti itukah?
Sadar diri, ini tentang buruknya ketegasanku dan congkaknya kehidupan asmaraku

Ingatan akan hadir sewaktu-waktu, kita tidak tahu, tapi, adakah hal yang lebih berharga dari itu?
Jangan tanyakan hal apa yang berharga, tak kumiliki apa pun kecuali darah daging dan ketulusan hati

Apakah ini tentang cinta dan juga benci?
Tapi benar, hidup tak selamanya bahagia, hujan datang kadang membawa duka
Cinta dan benci penyeimbang rasa

Barangkali cinta hanya sebatas ilusi, diciptakan pikiran dalam keadaan bahagia, dan benci hanya karya jiwa yang berduka
Betapa indah keduanya, keindahan yang nyata dan benar adanya. ***

Related posts

Leave a Comment