Cerpen 

Romo Sapien

OLEH: GUNS GUNAONE | @its_Gunaone

Kemuakkan itu hadir kembali, amarahku pada lingkungan yang sesak, panas, polusi, over populasi. Kian menghampiri disela-sela rutinitasku dari hari kehari diibu kota ini.
Di langit awan yang berkejaran berwarna kelabu pekat, namun rona angkasa itu bukan menandakan bahwa hujan akan segera turun. Melainkan pertanda bahwa mega-mega sedang merintih kesakitan.
“ Kenapa raut wajahmu muram?, dan engkau seperti enggan menangis. Padahal airmatamu
akan menetes menjadi rintik-rintik gerimis, itu indah bukan?. ” Lirihku, dan seolah didengar oleh hamparan awan itu, lalu ia menjawab dengan lengkingan suara maha gaib
“Aku sedang kurang sehat!, lihat kepulan asap industri berbondong-bondong mengotori mukaku. Asap kendaraan, kebakaran hutan, dan rokok kalian menambah rusak permukaan kulitku. ”
“ Bukankah itu sebagai konsekwensi peradaban ” Aku berusaha menyanggah meski hatiku sama pedihnya dengan awan-awan itu.
“ Memang aku sudah cukup renta, tetapi tidak perlu secepat itu ” Ia menjawab yang lantas memalingkan muka.
Melihat tingkah lakunya, aku beranggapan bahwa ia telah bosan berbicara denganku.
Terserah, bisikku di dalam hati.
Sebagian anggota tubuh Bangsaku kian terlemahkan
namun ia tetap saja berjalan santai
Sementara Aku melangkah gontai
Setiap kali perasaanku terperihkan,
tersiska realitas yang membingungkan
Aku mencari sebuah tempat bernaung yang beratap kuat
Yang tak lapuk
Dengan para penguasanya yang tak korup.
Nuraniku bersajak memaksa hidup untuk mencari alternative, membuang penat dan segala kebusukan ini. Tiba-tiba terbersit di benakku. Pantai!, ya pantai!. Karena di laut semuanya bisa hanyut, hanya pada deburan ombak setiap onak kecewa akan menjadi pasir-menjadi asin.
Akupun bergegas meninggalkan kesumpekan kota, menuju lautan-samudra biru. Selama perjalanan, bayangan pemandangan perkampungan memikat mata untuk tetap melek meskipun lelah. Ah, rasa ngantuk ini tak kan dapat dilawan, Akupun tertidur dan mimpi tentang:
Hamparan sawah hijau terbentang sejauh mata memandang, siulan bocah-bocah yang sedang menggembalakan sapinya di bukit, telah menggantikan kebisingan suara permainan anak-anak perkotaan. Pun bunga tidurku mengenai gadis-gadis desa yang sedang asik mandi dipinggir kali, mereka terlihat akrab bercanda bersama para lansia perempuan. Diantara mereka ada yang serius mecuci dan sebagian lagi berguyon dengan cipratan air sungai.
Perjalanan mengasikan, kedamaian yang jarang kutemukan, gumamku dalam mimpi.
Tanpa kusadari kendaraan yang membawaku kedesa pantai telah sampai ditempat tujuan, Aku dibangunkan kondektur.
Tak sabar, Aku terburu-buru turun dari mobil, kemudian berlari-berteriak memanggil pantai.
Jalan setapak bersemak menuju laut kupacu dengan semangat yang menggebu.
Anjing!
Keparat!
Ternyata laut yang telah kutinggalkan beberapa tahun silam, kini menyambutku dengan aneka peradabannya yang baru. Hotel telah tegak menjulang, sampah berserakan diantara kaki-kaki perempuan lokal yang berpasangan lelaki manca negara.
Melihat itu semua, sekujur badanku melemas, batinkupun bergetar pilu. Tanpa terasa keril terjatuh dari genggaman tangan, tubuhkupun ikut roboh-kedua lutut menyentuh pasir. Aku bersujud geram dengan kedua tangan merajam pasir.
“ Aaaaaahhh ” Jeritku serak
Sedu-sedan ini memaksa mata untuk melinangkan airnya, namun kucoba melawan sukuat jiwa.
Cengeng, pikirku.
“ Kenapa nak ” Suara itu terdengar samar dari belakang.
Telingaku mencoba menangkap sapaan itu.
“ Kenapa? ” Semakin jelas, dan dipundakku terasa ada satu tangan yang mendarat.
Aku membalikan badan.
“ Ah, tidak apa-apa ” Jawabku tenang
Ternyata yang menepuk pundak dan menyapaku adalah seorang Kakek bungkuk, berjenggot putih, rambutnyapun uban semua. Tak lama kemudian dia menuangkan air dari dalam bambu gombongnya, gelasnyapun terbuat dari bambu pula.
“ Minumlah dulu, nanti baru istirahat ” Kata Kakek sembari menyuguhkan segelas minuman.
Kamipun duduk meluruskan kaki dibawah pohon kelapa.
“ Air apa ini Kek? ” Tanyaku karena rasanya sedikit aneh
“ Lahang ” Tegasnya
“ Apa itu Kek, sejenis arak bukan ” Aku semakin penasaran
“Lahang atau Nira atau Tuak yang sedang kau nikmati itu ialah minuman alami, terbuat dari air pohon Aren. ”
“ Apakah Kakek bikin sendiri?, seperti apa cara membuatnya? “ Tanyaku kemudian.
” Pertama-tama tangkai bakal buah dari pohon Aren di potong, kemudian di pukul berkali-kali menggunakan kayu, setelah batang itu mengeluarkan air, maka air itu ditampung dengan bambu gombong, lantas dibiarkan sekitar dua belas jam, jika airnya sudah memenuhi bambu gombong, maka Kakek ambil dan mengganti dengan bambu gombong yang baru. Begitu seterusnya dan Kakek menjualnya ” Ujarnya panjang lebar
Aku hanya menganggukkan kepala tanda mengerti.
Langit senja telah redup, sang suryapun perlahan kembali keperaduannya-seakan tenggelam ditelan riaknya air lautan. Sementara itu lampu-lampu hotel secepat kilat menyala, para peselancar menepi-beradu kecepatan dengan datangnya malam.
“ Kakek panduduk asli pantai sini? ” Aku mencoba mengangkrabkan diri
“ Mungkin itu dulu ”
“ Dulu?, lantas sekarang? ” Aku mengulangi jawaban si Kakek dengan maksud ia mau menjelaskan alasannya,
Ternyata dia diam saja tak menghiraukannya.
“ Beberapa tahun kebelakang saya kesini dan laut ini masih sepi, sejak kapan pantai ini ramai seperti sekarang? ” Kucoba dengan pertanyaan lain
Kakek tetap tak memberikan sepatahpun keterangan.
Kekek itu malah merogoh sesuatu dari saku, Aku tak bereaksi apa-apa. Ternyata dia mengeluarkan sebungkus tembakau dan seikat daun kawung. Jemarinya terlihat telaten melinting rokok, setelah berbentuk kretek dia menjilati ujung daun kawung sebagai lem. Di nyalakannya korek api, dan rokok lintingan tangan sendiri itu dibakarnya, kemudian dihisap.
“ Bikinlah sendiri, coba rasakan ” Kata si Kakek setelah mengepulkan asap dari mulutnya.
Sebungkus tembakau dan seikat daun kawung dilemparkannya kehadapanku.
“ Terima kasih Kek, bukan menolak tapi kebetulan sampai sekarang saya tidak terbiasa merokok”
Orangtua itu seketika tertawa terbahak-bahak, kulit keriputnya tampak lucu berpadu dengan giginya yang jarang-jarang-hitam bernikotin. Akupun ikut tersenyum melihat tingkahnya.
Taklama siKakek mulai batuk-batuk, Aku segera menyodorkan sisa lahang yang diberikannya tadi.
Kakek : Terima kasih, sudah lama aku tidak tertawa selepas ini.
Aku : Sama-sama Kek
Dihisapnya lagi rokok kawung itu, Aku sendiri mengambil sebuah buku dari keril. Membacanya dalam hati-sekalimat demi kalimat, dan didepan kami ombak berdebur silih berganti.
Kakek : Merokok itu memang pilihan-misteri yang pelik, sebagaimana hidup. Dulu ketika pantai ini masih sepi, kelestariannya terjaga-dijaga dengan baik. Penduduknya hidup berkecukupan dengan menjadi nelayan. Setelah krisis ekonomi berkepanjangan, masyarakat disini sulit melaut karena harga bahan bakar solar kian melonjak dari tahun ketahun. Sementara ikan semakin sulit ditangkap dengan jala-pukat harimau, karena telah habis oleh kapal-kapal yang menggunakan bom dan bahan kimia. Kami semakin miskin, semakin kesusahan. Susah bekerja, anak-anak susah sekolah, bahkan untuk makan pagi-sorepun kami kelabakan.
Aku terkesan dengan cerita siKakek, membaca kuhentikan dan buku kututup.
Giliran tadi kutanya dia tak mau menjawab, sekarang nyerocos sendiri. Dasar orangtua yang aneh. Pikirku.
Aku : Terus Kek
Kakek : Datanglah sebagian orang Pemerintah dan pihak swasta memberikan solusi dengan bermacam program pembangunan yang katanya demi kemajuaan dan kesejahteraan rakyat pantai ini, pada tahun pertama keuntungan memang dapat dirasakan oleh hampir semua penduduk disini. Lama kelamaan hasilnya nihil, kenyataan selanjutnya yang ada, rakyat tetap miskin, tetap tersisih, tetap susah sekolah, makan masih saja jarang. Kami semakin binggung mencari pekerjaan, karena semua telah dikuasai pendatang-para pemodal dari kota, dari luar negeri yang diijinkan oleh Pemerintah.
Aku : Seburuk itu Kek?
Kakek : Itu belum seberapa, apa kamu tidak memperhatikan seberapa parah kerusakan kawasan ini?. Areal-areal serapan air beralih fungsi menjadi bangunan yang tak ramah lingkungan, hutan bakau kian berkurang, budaya moral kian terkikis dengan kebutuhan materi yang memaksa sebagian wanita remaja kampung ini untuk menjadi pelacur, itupun harus bersaing dengan perek-perek daerah lain yang menumpang mencari rupiah.
Kekesalan siKakek tergurat dari kerutan kening dan nada bicaranya yang sentimentil, dan terkesan berlebihan.
Aku : Apa tidak ada yang protes
Kakek : Malam sudah larut, Aku mau pulang
Aku : Kakek pulang kemana?
Kakek : Ke tenggara
Aku : Tenggara?
Kakek : Jangan lama-lama di laut, kerena sekarang laut tak seelok dulu. Selamat tinggal anak muda, sampai ketemu lagi.
Dia beranjak dari duduknya, mengambil dagangan lahangnya kemudian bergegas jalan. Aku ikut berdiri.
Aku : Sebentar Kek, kalo tidak keberatan boleh saya ikut?
Kakek itu menghentikan langkahnya, dan berbalik badan.
Kakek : Tidak
Dia meneruskan kembali langkahnya-semakin jauh.
Aku : Kenapa Kek, -teriakku
Kakek : Menolak itu hak saya, -teriaknya
Aku : Brengsek!, -celaku
Dan kaki kananku menendang pasir sekenanya, orangtua beruban itu dengan jenggotnya yang putih semakin tidak terlihat. Dia berjalan cepat kekerimbunan semak-semak. Namun tak sampai lima menit terdengar teriakannya
“ Anak muda, perlawanan itu realisasi pengendalian prilaku. Butuh makan dan sumber daya ”
“ Persetan dengan semua itu! sinting! “ Cetusku membalas teriakkannya
Yang terdengar tinggal hanya tertawanya dari jauh , yang dilayangkan hembusan angin malam.
Akhirnya pandangan Aku fokuskan kesuasana pantai pada malam hari, terlihat olehku keramaian aneka manusia dengan keasikkannya masing-masing.
Malam ini dipantai yang dulu kurindukan
Camar tak lagi berkejaran menangkap ikan
Dan batu karang tak lagi setegar halilintar
Ketika diterjang gelombang
Karena telah dihancurkan

Hilang segala keindahan laut
Menyusut terombang-ambing
Deburan ombak yang marah

Nelayan tak kunjung pulang
Karena tak pernah lagi pergi melaut
Kemana kesenyapan pantai
Dimana nyanyian daun kelapa
Dan kemana canda binatang-binatangnya

Setelah perkotaan, kemudian pantai
Apakah tiada lagi tempat yang sanggup menyimpan
Setiap kegelisahan dan setitik kesepian
Tiap Aku dan manusia.

Syair tentang desa pantai ini kutulis dalam catatan penjelajahanku, dan membenam di dalam keresahanku mengenai lingkungan sesak, mengenai hilangnya kejelitaan alam.
Dan Aku masih berdiri diatas pasir menyaksikan fenomena ini.
Aku datang kesini-kekampung pantai ini dengan maksud mencari kedamaian-keselarasan antara alam dan mahluknya yang alami, yang pernah kudapatkan di masa silam. Ternyata kenyataan berkata lain, Aku harus berhadapan dengan perubahan buruk, ketimpangan nilai tukar disegala bidang telah melenyapkan kesantunan dan ekonomi kerakyatan yang madani dari desa ini.
“ Mau saya temani? ” Tiba-tiba, kata seorang Perempuan belia menyapa
Aku yang sedang termenung melamuni hidup, keadilan dan kerusakan, dan pantai, seketika terperanjat kaget.
“ Tidak usah, terima kasih ” Jawabku spontan
Perempuan itupun berlalu pergi begitu saja, melangkah kekerumunan pengunjung pantai-menuju sebuah kafe. Tetapi ada suatu hal yang penasaran, yang harus Aku tanyakan. Aku berlari mengejarnya.
“ Sebentar, ” Kutarik tangan perempuan belia itu, iapun berhenti dan berbalik.
Aku : Apa kamu tahu seorang Kakek pedagang lahang yang bungkuk, rambutnya penuh uban dan berjenggot putih
“ Tentu saja, semua orang di pantai ini mengenalnya ” Tegas perempuan belia itu
Aku : Siapa namanya?, dan dimana tempat tinggalnya?
“ Penduduk disini memanggil dia Romo Sapien, dia tinggal dihutan belantara-dibalik pantai ini. Hidup seperti orang Purba. ”
Aku : Apa ada yang tahu alamat lengkap rumahnya?
“ Tidak, karena dia tidak punya keluarga. Dan belum pernah ada yang berkunjung kerumahnya. penduduk disini sudah tahu sifat anehnya, jadi masyarakat disini acuh tak acuh saja ”
Mendengar penjelasan perempuan belia itu, Aku langsung berlari mengambil keril yang terletak dibawah pohon kelapa.
Ditengah malam buta ini, Aku hendak mencari Kakek itu ke hutan-mencari Romo Sapien.

Related posts

Leave a Comment