Cerpen 

Sepotong Malam

 

OLEH: GUNS GUNAONE | @its_Gunaone

Alfaris Ghifari, lukisan pernyataan perasaamu enggan kupandang.
Sepanjang kegembiraan masa dewasaku yang telah terangkai indah dari tahun lepas tahun. Lusa nanti adalah minggu yang paling menyebalkan, hari pernikahan yang tidak pernah kuinginkan.
Ketukan pintu beberapa kali tak kuhiraukan sama sekali.
Tengah malam ini menjadi puncak kegelisahanku, segala kecewa dan penyesalan menyayat rasa sedihku yang tak kunjung reda. Begitupun kebencian terhadap lelaki pilihan ayah dan ibu, meniti titian kesunyian malamku. Apakah garis hidup yang terbentang pada nasibku sekedar rasa sakit dan pengharapan yang hampa?, air mata yang menjatuh tak akan ku tahan, dan memang sengaja terlinangkan. Biar air mata ini menjadi saksi, betapa hatiku sedang dan selalu diliputi duka cita setiap hari, setiap malam, bahkan setiap saat.
Lampu kamar, musik dan telepon genggam sengaja kumatikan. Ternyata kesunyian gelap ini menambah senyap suasana perih dalam nuraniku, tubuhku yang kian lemas tengah mencari peraduan-untuk meluapkan semua keperihan hidup yang tengah kualami akhir-akhir ini.
Namun tiada seorangpun yang mampu menjadi pijakan untuk menambatkan setiap kepedihanku,
mungkin hanya kau Alfaris Ghifari!, kau.
Isak tangisku masih menjadi, sekitar kelopak mataku pastilah sudah bengkak. Sementara itu jendela kamarku sedikit terbuka, dari luar jendela angin mendesir kencang- membuat tirai putih jendelaku berkelebatan. Sedangkan tak lama kemudian rintik gerimis mulai terdengar samar-samar, kaca-kaca jendela beruap dibuatnya, seakan alampun tahu apa yang sedang kurasakan saat ini. Aku beranjak dari tempat tidur, mengikat rambut panjangku yang tergerai berantakan, dan Aku menyeka air mata dan melangkahkan kaki ke arah pintu-menuju balkon kamar.
Diluar Aku mendongakkan kepala-mencoba memandang angkasa, ternyata benar, gerimis kian menjatuh, rona awanpun hitam pekat, langit tiada menyisakan sebuah saja bintang gemintang. Sedangkan deru angin menampar pipi dan badanku, dingin mulai menusuk-malam yang sunyi.
Dikursi yang terbuat dari kayu jati Aku merebahkan badan, kedua bolamataku masih basah, dan lamunan mengawang seketika.
“ Sebelum takdir-awal dari pernikahan itu bukanlah jodoh, melainkan nasib “ Tegas Alfaris Ghifari padaku tempo hari
Untaian kalimat ini terangkai kembali didalam anganku.
“ Kenapa? “ Tanyaku waktu itu
“ Perceraian “ Jawab Al- panggilannya sehari-hari.
“ Ah, kamu malah membuat Aku tambah binggung. Aku sedang kalut, harusnya kamu memberikan solusi bukannya berpolemik “ Kataku mulai kesal
“ Isabella Az Zahraku “ Panggilnya padaku “ Tak sedikit suatu ikatan pernikahan terputus ditengah jalan hanya karena hal yang sepele, seperti penindasan tak beralasan. Dan itu tak ubahnya seperti nasib yang sesungguhnya bisa dirubah-jika kita mampu mempertahankannya. Begitu halnya dengan hubungan kita yang sudah terjalin selama lima tahun, jika usaha telah kita tempuh-Tuhan tinggal menyempurnakannya. Mau sesuai dengan keinginan kita atau tidak, terserah Dia-sebab otoritas sesungguhnya atas hidup kita adalah hakNya. ”
“ Jadi, maksudmu komitmen kita cukup sampai disini dan Aku harus diam-menerima dan pasrah saja dengan lelaki yang dipilihkan orangtuaku. Sedang Aku baru sekali mengenalnya ” Al diam saja tak bereaksi apa-apa.
Al malah berpamit pergi, ia tidak memperdulikan ucapanku yang mengisyaratkan kecewa. Ah, Aku baru tersadar, memang telah menjadi kebiasaannya-jika Aku tengah kecewa dan dirundung kekacauan perasaan, sudah dapat dipastikan ia akan meninggalkanku dengan maksud: supaya Aku bisa menenangkan diri sambil merenungkan tentang hikmah dari apa yang sudah terjadi, begitu sebaliknya.
Keesokkan harinya, kamipun bersikap tenang seperti biasa-saling meminta maaf, berusaha menjadikan; hidup itu terlalu pendek untuk ditambah dengan penyesalan, maka jadikanlah hari ini lebih baik. Anggapan itulah yang selalu membuat kami seolah tak pernah terjadi perselisihan, itulah salah satu cara yang membuat hubungan kami langgeng hingga detik kemarin. Sebelum Aku ditunangkan dan sebelum Al pergi-berangkat ke Francis.
Rintik gerimis malam ini belum reda, malah digantikan cucuran air hujan yang lebat. Desir angin malam kian terhembus kencang. Menggigil terasa pada badanku yang hanya berbalut baju tidur yang tipis, ditambah tampias yang membuat wajahku serta badanku perlahan terbasahi.
Aku menghentikan lamunan kemudian masuk kembali ke dalam kamar, muka kuusap dengan kedua belah tangan. Setelah pintu kututup, jendelapun yang sejak sore terbuka kututup dan kukunci pula.
Badan kulentangkan diatas tempat tidur, ketika kuraih jam weker dari atas meja kecil, ternyata waktu menunjukan pukul setengah tiga dini hari. Guling kesayangan kupeluk, rasa ngantuk belum ada, seakan ia enggan menghampiri orang-orang yang tengah dirundung kesedihan seperti Aku.
Al, kaupun telah tahu rasa kasih sayangku terhadapmu, terlalu lama tertanam pada relung jiwa. Pastilah kaupun merasakan, ketelanjuran cinta yang berkarat padaku. Lirihku dalam hati.
Apalagi yang harus kuperbuat untuk dapat menghilangkan perasaan sedih, sementara itu seisi kamar terasa memandangiku, apalagi lukisan itu. Seolah mereka menertawakanku, akupun memejamkan mata, yang lantas memaksa-untuk melanjutkan lamunan tadi yang sempat tertunda.
Sama dengan hari-hari lainnya, kala siang yang terik itu-kemarin lalu kewajibanku memberikan pengajaran kepada anak-anak Sekolah Menengah Pertama telah kutunaikan. Sebelum pulang kerumah, selalu aku menyempatkan mampir ke Bengkel Patung, tempat dimana Al tinggal dan bekerja.
Meskipun letaknya jauh dari sekolah tempat aku mengajar, sama sekali tak ada keberatan padaku untuk mengunjunginya tiga kali seminggu.
Angkutan umun jurusan kesana datang juga, akupun segera menaikinya.
Alfaris Ghifari, ya! dia seorang seniman: perupa-pematung. Kalian tahu?, tampangnya cukup kumel, hidung mancung, rambut ikal panjang tak pernah disisir, matanya besar tajam, ditambah jambang dan jenggot lebat yang menutupi seperempat wajahnya. Parasnya mirip bangsa Arab, karena memang dia memiliki darah timur tengah dari Ayah-Ibunya yang telah meninggal. Gaya berpakaiannya semeraut, tak mempedulikan penampilan. Sekali kalian bertemu dengan dia, sangkaan orang gila akan melekat memenuhi kepala. Dan walaupun seperti itu, aku tetap sayang dan bangga bisa menjalin hubungan dengan Al.
Cinta adalah prilaku, bukan penampilan semata. Dan semua tentang anggapan buruk ternyata dapat dikalahkan dengan pembuktian ahlak dan jiwa yang tulus-jernih. Realitas itulah yang coba diamalkan Al dalam mengarungi arus kehidupannya, itulah sebuah moral yang telah membuat luluh hatiku.
Al memang lain, unik, aneh, sangat berbeda dengan lelaki kebanyakan yang selama ini kukenal.
Dulu pernyataan sukanya padaku ia ungkapkan lewat sebuah lukisan: gambar seorang lelaki, dengan selafaz ayat suci yang terbelenggu oleh sehelai jilbab, dan ditulisi sebuah sajak:

Mampus Aku!
Sepenuhnya tarikan nafas dan detakku
Terpahatkan digaris pemberi nikmat
Bangsat!
Ketika senja itu kau datang
Mengisi ruang kecil dan bisu
Pada relung pusara jiwa yang tenang
Sebuah kuburku:
Tempat Aku menumpahkan cinta kepada Tuhan.
“ Aku jatuh hati!,
jika sudi menerima seberkas rasaku terhadapmu
segala puji bagiNya.
sebab setubuh perasaan cintaku, tiada lebih untuk siMaha Pencipta
untukmu hanya sesamudra duka “

Lelaki gila, pikiranku menjawab kala itu.
“ Berhenti dimana Neng? “ Tanya pak Sopir
“ Jalan Multi Cipta “ Jawabku kaget
“ Sudah lewat Neng, kenapa tidak bilang dari tadi “
“ Maaf Pak, saya ngelamun “
Aku lantas turun, membayar ongkos dan jalan.
Ah, meski harus jalan lagi-tidak apa-apa, yang penting aku bisa bertemu dengan lelakiku: Alfaris Ghifari. Pikiranku menggerutu.
Kakiku melangkah riang, meski panas mentari terasa hingga ubun-ubun, namun kegembiraan dan rasa rindu kian menyertaiku. Sebotol air mineral kuraih dari dalam tas, saat akan kuminum.
“ Ka, kasihan aku ka. Dari pagi belum makan “ Kata seorang anak menghampiriku, dengan tangan meminta-minta. Akupun menghentikan langkah.
“ Ya Tuhan!, kasihan sekali kamu,” Kataku yang tak jadi minum “ Ini, kamu mau? “ Sebotol air itu kusodorkan padanya.
“ Mau ka, terima kasih. “ Jawabnya, yang langsung merebut botol air mineral dari tanganku. Air itu diteguk habis olehnya, sementara botolnya ia masukan kesaku celana.
Aku merogoh uang dari saku baju, diserahkan pada anak itu.
“ Kakak tidak punya makanan, ini ambil buat kamu. Kamu beli sendiri ya? “
“ Makasih ka “ Tegas anak itu, yang lantas pergi-berlari kesebrang jalan.
Aku mencoba memangilnya, tetapi anak dekil itu tak menghiraukanku. Padahal aku masih ingin bertanya, tentang namanya, sekolahnya, tempat tinggal dia, dan kedua orang tuanya.
Ya Tuhan, di Negaraku memang cukup banyak anak-anak yang terlantar atau yang sengaja ditelantarkan. Mereka kehilangan haknya sebagai anak, setiap hari, kitapun sudah terbiasa melihat mereka dipersimpangan jalan, dibis kota, ditrotoar, lampu merah, serta dikolong-kolong jembatan.
Anak jalanan tadi…
Selain tanggung jawab kita sebagai sesama, bukankah peraturan sangat jelas bahwa mereka tanggung jawab Negara. Amat ironis dengan kenyataannya. Ya, meski mereka dari berbagai macam latar belakang; ada yang memang murni tak punya, ada juga yang sudah menjadikan bahwa “jalanan” adalah lahan bekerja. Baik itu yang independent maupun yang terorganisir. Namun mereka tetaplah korban, korban kebijakan politik-sosial-ekonomi, korban eksploitasi kelas-kelas borjuis jalanan.
Tanpa terasa Aku sudah sampai didepan Bengkel Patung, kali ini antrian panjang ibu-ibu rumah tangga dan beberapa lansia perempuan berdesakkan-membentang sepanjang jalan. Menghalangi pula pintu masuk Bengkel Patung.
“ Maaf! “ Kataku pada seorang Ibu “ Ada apa bu? “ Tanyaku kemudian.
“ Beginilah Neng, rakyat makin susah. Untuk mendapatkan minyak tanah satu liter saja, harus ngantri berjam-jam. Kadang kita tetap tidak kebagian. “ Kata seorang Ibu, yang jelas kesal.
“ Bukankah sekarang sudah ada subsidi gas ” Aku berkata lagi
“ Percuma! “ Tukas seorang ibu yang lain “ Sama susahnya, mahal lagi. Coba pikir, kita ini orang kecil. Untuk membeli gas yang ukurannya sudah ditentukan, kadang uang kita tidak cukup. Tetapi minyak tanah, kita bisa mengecernya meski hanya satu setengah liter”
Aku tak berkomentar apa-apa lagi, langsung saja permisi numpang lewat. Setibanya dihalaman Bengkel Patung, belasan anak jalanan sedang asik menyimak pengarahan dari Ferdinan-teman Al seorang pelukis. Ferdinan tengah mengajarkan tentang bagaimana cara mendaur ulang kertas dan dijadikan suatu hasil karya(media untuk melukis). Dia mendelikan tatapnya padaku, aku hanya melambaikan tangan padanya. Langkahku terus menuju pintu ruangan tempat Al bekerja.
Dari dalam rumah terdengar olehku sayup-sayup suara shalawat Nabi dan puji-pujian melantunkan asma-asma Tuhan, setelah beberapa kali mengucapkan salam dan beberapa kali mengetuk pintu, tetap tak ada jawaban. Akupun memberanikan diri membuka pintu, pantas saja tak ada jawaban, pikirku. Rupa-rupanya Al sedang khusyuk menarikan koreografi Wiling Darwis, sebuah tarian khas kaum Sufi. Tubuhnya berputar-putar, menggila dalam kemabukan cinta terhadap Rasul dan Tuhannya. Saking khidmatnya, meski tak tuli dan dengan matanya yang terpeuam, ia tak sadar akan lingkungan sekitarnya. Seperti kesurupan, padahal aku berdiri memandanginya.
Sudah lebih dari setengah jam aku berdiri memandanginya, tetapi ia belum juga menyadarinya. Aku mulai kesal, dasar seniman gila. Kataku dalam hati.
Aku segera mengambil remote dan mematikan musik shalawat Nabi serta pujian pada Tuhan yang mengiringi Wiling Darwisnya, dengan begitu barulah ia perlahan-lahan menghentikan tariannya.
“ Kapan kamu datang ? “ Tanya Al
“ Tanya saja sama patung-patungmu “ Jawabku sedikit kesal
“ Hai patungku, kapan tulang rusukku datang ? “ Tukas Al, sambil tersenyum menatap salah satu patung yang terletak dimeja dekat jendela.
Aku semakin kesal, dan memutar badan-berjalan menuju keluar. Pasti dia memanggilku, pikirku.
“ Pulanglah, jika itu maksud dari sebuah kedatangan “ Kata Al dengan dinginnya
Tersentak aku dibuatnya, meski rasa saling mengalah telah kudapati sebagai salah satu alat untuk mengharmoniskan sebuah hubungan, tetapi toleransiku ada batasnya. Aku terus saja berjalan.
“ Tadi pagi ibumu datang lagi kemari, meminta keikhlasanku agar segera mengakhiri hubungan denganmu “ Kata Al tiba-tiba
Demi Tuhan mendengar kalimat itu aku seperti disambar petir tengah hari, dan tanpa pikir panjang langkah kuhentikan.
“ Apa? “ Bentakku “ Al, kamu bercanda kan? “
“ Terserah! “ Ucap Al dengan tenangnya “ Orang tuamu cukup wajar, aku memang jauh dari ideal dan mereka telah memilihkan lelaki bagimu. Calon suami yang menurut mereka tepat untuk menjadi pendamping dalam mengarungi biduk rumah tangga. “
Saat itu, sama sekali aku tak kuasa berbicara sesukupun. Segenap raga dan batinku diliputi segumpal sakit hati yang tak bertuan, aku benci, benci sebenci-bencinya terhadap garis nasib ini. Marah terhadap ayah dan ibu, terhadap diri sendiri, dan jengkel terhadap Al.
Sementara itu Al masih terus berbicara
“ Dan aku selayaknya pria berkeyakinan, akupun menjelaskan pada mereka berdua tentang akan dibawa kemana arah komitmen kita. Aku tegaskan bahwa sepulang dari pameran tunggalku diparis, segera akan kuakhiri hubungan kita dipelaminan. Kurang jelaskah usaha yang kulakukan?, akan tetapi ayah dan ibumu tetap pada pendiriannya, mau tak mau aku berbesar hati menghargai hak mereka sebagai orang tua dan sebagai manusia. “
Sementara itu tangisku malah kian menjadi.
“ Sudahlah! “ Al mencoba menenangkan “ Bukan berarti aku tidak sedih dan tidak sakit hati, itu manusiawi, akan tetapi apakah semua kekecewaan yang berkepanjangan dapat mengembalikan realitas yang sudah terjadi. Ingat waktu dulu kita beropini bersama,: bahwa ikatan adalah tentang dikenang atau mengenang, tentang memutuskan atau diputuskan, dan tentang apa akan kembali atau tidak sama sekali “
Aku tidak mau mendengar segala serapah yang diucapkan Al, terus menangis itulah yang kulakukan. Kedua tanganku menutup muka, terisak dan menangis sejadi-jadinya.
Sehelai sapu tangan disodorkan Al padaku, aku menepisnya dibarengi cercaan.
“ Aku benci!, benci semuanya.”
Akupun berlari keluar meninggalkan Al-meninggalkan Bengkel Patung.
“ Bella…Bell…Bella… ” Panggilan Al terdengar keras, namun sama sekali tak kuhiraukan.

Ah, subuh sudah menjelang, semua sandiwara kehidupan tempo hari harus kuhentikan. Pengalaman pahit yang kemarin akan kukubur bersama malam yang hanya tinggal sepotong, akupun bangun dari tempat tidur yang kemudian mengambil selembar kertas yang kutulisi:
Untuk Aku, Tuhan serta Ayah dan Ibu.
Meski telah lama kusadari, apakah harus selalu-untuk menolong dan menyenangkan orang lain harus mengorbankan perasaan serta kebahagiaan kita sendiri?. Dan terjadi beberapa kali, itukah kebohongan terkecil yang dimaafkan ataukah sepatah makna yang disebut keikhlasan?.
-SelamatTinggal-
Aku pergi tiada bermaksud untuk menyakiti siapapun, terlebih kepada Ayah dan Ibu.
Hanya sesaat saja, Aku butuh waktu yang kosong, sendiri, jauh. Hingga sampai ketabahan dan keikhlasan sesungguhnya, dapat berlabuh dihatiku yang tak akan berlayar kembali ke tengah lautan kehidupan.

-SelamatTinggal- Dari Isabella Az Zahra
Aku pergi.

Related posts

2 Thoughts to “Sepotong Malam”

  1. Walaupun dalam sibuk2 buat kerja .. blog nie tetap saya lawati…
    sbb artikel dia memang menarik… nak cadang kepada pengunjung..

    bookmark…

    1. admin

      Terima kasih. Salam sastra. Kami undang juga untuk menulis dan berbagi informasi di sini. Terima kasih.

Leave a Comment