Puisi 

Hutan Jati Kering

RYCO V. AMENITY | @iconessia | seribujari.blogspot.com

telah gugur kemarau bulan ini
pohon jati tegak berjajar saat aku berdiri
di pucuk kesetiaannya daun-daun terlepas dari kekasihnya
tak ada basah yang menghakimi
di hadapanmu aku memandang ke dalam dirimu
takkan ku biarkan dukamu menumpahkan air mata kesedihan
biarkan mengering seiring cinta memahkotaimu lagi
kemarilah, jangan pergi, jangan sembunyi
aku mendengar panggilanmu dari palung paling dalam
perasaanmu, jiwamu, ingatanmu

ketika awan hitam menggantung di antara hutan jati kering
seseorang datang menghadangmu
dia berkata seolah kau adalah bagian dari cerita lalunya
“kita pernah melintasi hutan jati di tempat lain, yang lebih hijau tanpa kemarau,
kenapa kau memilih hutan kering ini?”
aku dan kemarau akhirnya hanya bisa diam
memandangnya seolah tanpa harap
hujan juga mungkin takkan datang

tiba-tiba kau bicara padanya
samar-samar aku mendengarnya
“waktu itu, kita memang merasakan betapa sejuknya melintasi hutan jati dengan daun hijaunya
namun, kini bukan hanya hutan jati ini yang kering
tapi jiwa kita berdua juga sudah menggugurkan daunnya”
tak perlu lagi kita menunggu air langit yang selalu tertahan rindunya
bagaimana kita bisa tumbuh jika kau hanya peduli terhadap yang hijau saja
sementara yang kuning kau biarkan mengering
seharusnya saling percaya, kemarau yang kita hadirkan bukan untuk ditinggalkan
daun-daun yang meranggas itu adalah dosa-dosa kita
tak ada kebahagiaan yang abadi, tak ada pula kesetiaan yang berarti

Related posts

Leave a Comment