Esai Karya Pilihan 

Diah Hadaning, Penyair “Serba Tujuh”

Saya mengenal nama Diah Hadaning (DH) pada 1978, ketika mulai mencoba-coba mengirimkan sajak ke media. Kala itu, saya tinggal di kampung, selepas dari SMA. Nama yang puitis itu saya temukan di Mingguan Swadesi. Bagi penulis pemula yang tinggal di desa, di Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah, kolom puisi Swadesi cukup menggoda untuk menjadi salah satu media publikasi. Dua tahun kemudian, 1980, saya bertemu langsung dalam sebuah acara sastra di Harian Berita Nasional (Bernas), Yogyakarta. Saat itu saya sudah kuliah di Yogya dan aktif menulis di media massa, termasuk di Bernas.

Saat itu, DH sebenarnya sudah hijrah ke Jakarta (sejak 1975), menjadi redaktur Swadesi, dan kemudian mendirikan LSM bimbingan menulis, Warung Sastra Diha. Awal 1980-an, tepatnya 1982, prestasi DH melejit dengan meraih Anugerah Puisi Putera dari Gapena Malaysia, sebuah penghargaan yang dua tahun sebelumnya diraih Sapardi Djoko Damono. Puisi-puisi DH pun terus setia mengunjungi penggemarnya lewat Swadesi, Suara Karya Minggu, Sinar Harapan, Pelita, dan berbagai media massa lain.
Pada 1987, ketika saya mengikuti ajang Temu Penyair Indonesia, yang diadakan DKJ era Abdul Hadi WM, kami bertemu kembali di Taman Ismail Marzuki. Tentu, saat itu, DH masih muda dan cantik. Kemudian, setelah saya hijrah ke Jakarta, kami lantas sama-sama aktif di Komunitas Sastra Indonesia (KSI), karena memiliki kepedulian yang sama pada para penyair pinggiran yang luput dari perhatian pusat-pusat sastra di Jakarta.

Ketika DH merayakan ulang tahun ke-70, Alhamdulillah, saya mendapat kehormatan untuk mengantarkan buku kumpulan puisi terbarunya saat itu, 700 Puisi Pilihan, Perempuan yang Mencari (2010), setebal 700 halaman. Semuanya “serba tujuh”, karena memang diterbitkan dalam rangka hari ulang tahunnya ke-70.
Ini buku kumpulan puisi modern Indonesia yang ketebalannya menempati urutan kedua setelah Kerygma & Martyria karya Remy Sylado (2004) setebal 1.056 halaman, yang tercatat di MURI sebagai buku kumpulan puisi paling tebal di Indonesia. Dan, DH pun mendapatkan rekor MURI dengan kategori ”Penulis Antologi Puisi Tertebal pada Usia Tertua, 700 Halaman pada Usia 70 Tahun”.
Memiliki buku kumpulan puisi sangat tebal, tentu merupakan prestasi sekaligus prestise, dan sekaligus dapat mengukuhkan posisi kepenyairan seseorang. Tetapi, buku tebal tampaknya tidak selalu segalanya. Buktinya, buku tebal Remy Silado itu dikalahkan oleh buku tipis hanya setebal 80 halaman, kumpulan puisi Kekasihku (Gramedia, 2004) karya Joko Pinurbo, dalam ajang Khatulistiwa Literary Awards (KLA) 2005. Keduanya sama-sama masuk nominasi, tapi Kekasihku yang berhasil meraih KLA 2005.
Meskipun begitu, buku tebal tetaplah potensial untuk mengusung berbagai keunggulan. Setidaknya, karena ketebalannya, ia dapat merekam perjalanan panjang kepenyairan sang penyair “serba tujuh”, termasuk (yang utama) perkembangan estetik dan tematiknya. Dan, begitulah buku kumpulan puisi tebal DH, yang merekam sajak masa awal kepenyairannya pada awal 1970-an hingga sekarang. Buku Perempuan yang Mencari ini memuat puisi yang ditulis DH pada Desember 1973, yakni “Wanita dan Bumi Merdeka” (hlm. 691), dan sajak paling anyarnya, yakni “Balada Lanjar, Lelaki Malang yang Mencari Keadilan” yang ditulis pada Februari 2010, dua bulan sebelum buku ini diluncurkan. Dengan demikian, buku ini merekam sekitar 37 tahun masa kepenyair DH, suatu rentang masa kepenyairan yang sangat panjang.
Pada rentang waktu yang panjang itulah, melalui buku itu, kita dapat melihat perkembangan estetik dan tematik sajak-sajak DH. Pada aspek estetik, kita dapat melihat bagaimana perkembangan pemahaman, wawasan, pencarian, serta penemuan puitika DH dan bagaimana ia mengaplikasikannya dalam menulis puisi. Apakah ia cukup bertumpu pada bakat alam dengan pemanfaatan puitika (aspek instrinksik puisi) secara apa adanya (sederhana saja), ataukah terus mencari dengan temuan-temuan puitika baru yang lebih segar dan pas untuk mewadahi ide-ide kreatifnya.
Begitu juga ketika kita menyimak perkembangan tematik (isi dan pesan) yang diangkat ke dalam sajak-sajaknya dari waktu ke waktu, kita dapat melihat apakah DH hanya sibuk berbicara tentang kegelisahan batinnya atau mencoba terus berdialog dengan keadaan zamannya yang terus berubah dengan berbagai persoalan baru yang makin pelik.
***

Mari kita menyimak sajak-sajak DH, sang penyair “serba tujuh”, sejak puisi yang tertua sampai yang terbaru, meskipun dapat saja dengan melompat-lompat. Uniknya, urutan tahun penciptaan sajak-sajak dalam buku Perempuan yang Mencari ini disusun mundur ke belakang, dari sajak yang terbaru (di depan) sampai sajak yang terlama. Jadi, kalau kita membaca dari depan (dari kiri ke kanan) berarti melakukan pelacakan mundur ke belakang. Jika ingin mencermati sajak terlama hingga terkini, berarti harus membukanya dari kanan ke kiri, seperti membuka Alquran.
Sajak terlama DH, yakni “Wanita dan Bumi Merdeka” (hlm 690-691) nyaris sama sekali tidak memerhatikan aspek instrinksik (tipografi, rima, ritme, diksi, dan pencitraan) puisi. Bahasanya lugas, nyaris tanpa imaji asosiatif maupun simbolik yang puitis dan sugestif. Kalaupun ada imaji simbolik, maka tidak dalam deretan baris-baris puitis yang prismatik, tapi tetap dalam baris-baris pernyataan yang verbal, dalam deretan kata-kata yang denotatif. Rima dan ritmenya juga tidak tergarap. Begitu juga tipografinya. Puisi ini hanya terdiri dari 58 potong baris pernyataan kritis tentang eksitensi kaum wanita dan keadaan zamannya (1973) yang disusun begitu saja tanpa mengenal pembaitan.
Kesadaran estetik baru muncul pada sajak tertua DH yang ketiga, yakni “Jakarta 75” (hlm 688), yang mencatat peristiwa hijrahnya ke Jakarta, dan ditulis pada Juni 1975. Sajak ini mulai mengenal pembaitan, sehingga tipografinya tampak lebih manis, dengan rima dan ritme yang mulai tertata dengan apik. Meskipun citraan-citraannya tidak bermakna asosiatif ataupun simbolik, tapi imaji-imaji alam yang dipadu dengan imaji perkotaan – rembulan di langitmu terpotong puncak gedung, matahari di langitmu terpotong siluet benang –muncul secara sangat puitis dan mengesankan:

JAKARTA 75

Glamournya menyebar liar
Sampai ke kota tua
Mengejek kampung utara
Aku ternganga
Ketika suatu saat
Harus mengetuk pintunya
Untuk bermukim

Glamournya memilih-milih
Tak sampai pada jalan menuju rumahku
Aku bukan sahabat
Aku datang tanpa diundang
Salah diri terbongkok udang
Nembang menatap awang-awang
Jakarta, bagaimana harus menyebutmu

Rembulan di langitmu
Terpotong puncak gedung
Matahari di langitmu
Terpotong siluet benang
Impian di langitmu
Membuatku jadi kepompong
Akankah di sini lama aku

Jakarta, Juni 1975

Membandingkan sajak tertua pertama, kedua dan ketiganya tersebut, tampak adanya semacam loncatan pencapaian prestasi estetik pada proses kepenyairan DH. Sayangnya, tahun 1973 dan 1974 hanya diwakili masing-masing satu sajak. Sedangkan tahun 1975 hanya dua sajak, yang pencapaian estetiknya kurang lebih sama. Kita tidak melihat ada sajak-sajak seperti apa sebelum DH mengalami loncatan pencapaian estetik pada sajak-sajak tahun 1975.
Dan, pencapaian estetik pada sajak tahun 1975 itu kemudian cenderung dipertahankan oleh DH pada sajak-sajak setelahnya, dengan ciri khas: transparan tapi tetap puitis, sederhana tapi indah, dan menghindari ungkapan-ungkapan yang cenderung gelap. Ciri lain yang dominan pada sajak-sajak DH adalah kecenderungannya untuk memperhatikan makna kata dan kebermanfaatannya bagi pembaca. Kecenderungan ini dapat kita lihat pada sajak yang ditulisnya hingga sepuluh tahun, dua puluh tahun, tiga puluh tahun, dan tiga puluh tujuh tahun kemudian, saat DH mulai bermain-main dengan citraan-citraan simbolik yang unik dan segar, namun tetap komunikatif dan jelas pesan pencerahannya.

PROYEKSI DARI SENTANI

Gerimis pagi Bekasi melukis bias wajah
Lelaki tua dari Sentani lama – Yan Yapo
Memadat di wajah coklat tua
Dua anak muda Papua
Di lembab Januari
Tempat kakek moyangnya kini
Menjaga bumi Papua sejati

Yan Yapo, tak bisa kuterjemahkan
Yan Yapo, tak bisa kuuraikan
Sendainya di tanahmu
Terjadi keajaiban usung perubahan
Seandainya di hari-harimu
Papua tak lagi ulang-ulang lagu “sorata”
Yamdena tak disapa bencana kering memasir
Tambang-tambangmu tak disentuh gadai
Yang lamanya puluhan tahun, wahai

Yan Yapo, gunung hijau jadi lembah terburai
Kulihat lekat di wajah gelap
Dua anak muda Papua di Panti
Yang tak mengerti arus sejarah tumpah darah
Tergerogoti aneka sewa-menyewa
O, biji emas ada saatnya ludas
O, perubahan jangan jadi kano kandas

Bekasi, Januari 2010

***

Secara tematik, sajak-sajak DH, sejak masa awal kepenyairannya sampai saat masih produktif, adalah sajak-sajak peduli sosial. Dalam buku ini nyaris tidak ditemukan sajak yang berkutat dalam kegelisahan personalnya, baik tentang cinta, kesepian, maupun kerinduan pada seseorang. Dalam bersajak, DH lebih menempatkan diri sebagai mahluk sosial yang terpanggil untuk ikut memperhatikan, dan jika bisa memperbaiki, keadaan buruk lingkungan hidupnya, sejak lingkungan alam, lingkungan sosial, sampai lingkungan politik. Di sela-sela kepeduliannya itu, DH mencari dan terus mencari, keadilan dan kebenaran sejati, yang makin raib dari kehidupan. Walaupun, mungkin, tidak akan pernah diremukannya sampai pada akhir masa hidupnya.
Sajak-sajak yang dikutip secara melompat-lompat di atas dengan jelas menunjukkan kepedulian DH itu. DH sangat peduli pada nasib kaumnya, nasib bocah-bocah miskin yang mengadu nasib di kota, lingkungan alam yang makin rusak, nasib anak-anak bangsa yang terpinggirkan, sampai kondisi politik yang tidak memihak pada rakyat. Jika pada tahun 1980-an sempat muncul ide tentang pentingnya sajak-sajak yang kontekstual, sajak-sajak yang peduli pada persoalan masyarakatnya, seperti dilontarkan oleh Arief Budiman dan Ariel Heryanto (lihat buku Perdebatan Sastra Kontekstual, Penerbit Rajawali, Jakarta, cetakan pertama, 1985), maka sajak-sajak DH dapat disebut sebagai contohnya.
Ahmadun Yosi Herfanda, pelayan sastra.

Ahmadun Yosi Herfanda.
Lahir di Kaliwungu, Kendal, 17 Januari 1958. Berkarir sebagai wartawan sejak 1983. Terakhir menjadi redaktur sastra Harian Republika (1993-2009). Pernah menjadi ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ, 2009-2013). Kini mengajar creative writing pada Universitas Multimedia Nusantara (UMN) Tangerang. Buku kumpulan puisinya, antara lain Sembahyang Rumputan (1986), Negeri Daun Gugur (2015), Ciuman Pertama untuk Tuhan (2007, mendapat penghargaan sastra Pusat Bahasa), dan Ketika Rumputan Bertemu Tuhan (2016, meraih kategori buku Unggulan Hari Puisi Indonesia 2016). Tinggal di Pamulang, Tangerang Selatan. Email: ahmadun.yh@gmail.com dan akun Instagram @ahmadun.yeha

Related posts

Leave a Comment