Cerpen 

Sebuah Kisah Untuk Sorot Matamu

SEPRIANUS | @seprianus5817 | seprianus81@gmail.com

Aku membuka halaman microsoft word di laptopku bermaksud menulis sesuatu tentang dirimu di tahun-tahun yang jauh itu. Namun, waktu seolah berhenti. Setengah jam mataku terpancang begitu saja menatap halaman putih dan cursor yang berkedip-kedip, tanpa sepatah kalimat pun yang terlintas dan dapat kutuliskan. Kenangan itu menghempaskanku kembali pada suatu masa dimana kita memulai sebuah kisah yang untuk bertahun-tahun sesudahnya tak pernah mampu kulupakan.

“Bolehkah kuantarkan pulang?” tanyamu padaku pada sore yang dingin dan gerimis. Kau membuka payung dan menangkupkannya di atas kepalaku.

Aku tak menoleh. Dadaku bergemuruh. Mukaku terasa panas. Kau tiba-tiba muncul begitu saja dan berjalan merendengiku sambil memayungi.

“Oh iya, kenalkan, namaku Ryan.”

Kau mengulurkan tanganmu di depanku hingga aku tertegun dan terhenti melangkah. Mataku masih menancap ujung sepatu. Aku sungguh tak sanggup mendongakkan wajah dan menantang matamu. Aku takut sesuatu yang rapuh dalam dadaku akan pecah dan membuatku jatuh terpuruk. Tapi tangan itu begitu melahirkan rasa kasih. Aku pun menyambutnya. Dan seketika kurasakan tubuhku dijalari sengatan listrik yang meluruhkan seluruh tulang-tulangku. Aku berusaha tidak goyah.

“Nisa.”

Aku telah mengetahui tentang dirimu jauh sebelum kau memperkenalkan diri sore itu. Anak-anak panti sering menceritakanmu. Kau lelaki penuh tawa, penyuka hujan dan senja. Memperhatikanmu dari jauh, mencuri-curi waktu untuk melirikmu yang sedang tertawa renyah bersama anak-anak panti yang duduk melingkarimu, telah membuat dadaku ikut menggelembung bahagia. Dan entah mengapa sejak itu aku mulai menyisip harap.

Jika ini disebut cinta, barangkali inilah cinta pertamaku. Sebelumnya aku tak pernah berharap akan disukai oleh lelaki sepertimu. Aku bukan wanita menarik dan tak pernah pula berupaya untuk menarik di mata lelaki. Aku tak pernah berpikir sampai sejauh itu. Karena itu aku tak pernah melabuhkan rasa kepada lelaki mana pun sebelum ini.

“Kau pasti sudah sering datang ke panti ini,” katamu pada suatu siang yang cerah dan berangin lembut. “Anak-anak panti selalu menyebut namamu setiap kali buku cerita kubacakan. Kamu punya gaya bercerita yang asyik kata mereka. Hal itu membuatku sedikit iri.” Kau pun tertawa.

Aku tak pernah menganggap itu pujian tapi aku senang ketika kau mengatakannya. Kata-katamu itu telah menumbuhkan sesuatu dalam dadaku.

“Kata anak-anak, kau juga sering berbagi nasi kotak dan pakaian layak untuk anak-anak jalanan, benarkah?” selidikmu penasaran. Ada rasa kagum di sorot matamu. Saat itu sore menjelang maghrib dan kita bertemu di teras mesjid. Aku hanya membalas dengan mengangguk tersenyum. Itu jelas bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan.

“Aku kagum padamu.”

Kata-katamu sejak itu berdenyar di telingaku, merasuk-rasuk ke dalam dada hingga membuatku susah tidur. Aku takut bermimpi tentang dirimu dengan segala keindahannya. Aku takut semua yang kuangankan akan menyakitiku ketika kusadari aku telah berharap terlampau jauh dari kenyataan.

“Cuaca tak begitu baik, ini jaketku, pakailah.” Kau menyampirkan jaketmu ke pundakku pada senja yang muram itu. Meski aku sangat gugup, kau melakukannya seolah itu hal biasa. Seolah kita sudah berkarib sejak lama. Debar di dadaku semakin bergemuruh.

Aku kini menatap jaket itu tergantung di balik pintu kamar. Jaket merah tua itu tak pernah kucuci sejak itu. Ada aroma khas dirimu yang ingin kuawetkan.

“Nisa,” katamu pada suatu sore di sebuah café di mall. “Aku mungkin lelaki paling ceroboh. Tapi entah mengapa saat ini aku yakin dengan perasaanku. Aku telah menaruh rasa suka padamu.  Jika kau tak keberatan, maukah kau menjadi calon istriku?”

Tak ada yang dapat kukatakan saat itu. Semua seperti berpendar dalam warna-warni yang menyilaukan. Dadaku nyaris diledakkan kebahagiaan.

“Calon istri?”

Aku tak menatapmu. Suaraku tenggelam dalam ketakyakinan. Aku takut jika tatapan kita bertemu semua akan rusak dan aku terbangun dari mimpi.

“Beri aku waktu.”

Beberapa hari sejak itu aku tak pernah lagi datang ke panti. Semua anak menanyaiku. Semua pembina dan pengurus juga. Aku bagai hilang tak berkabar. Teleponmu juga tak kuangkat. Sepulang dari panti sore itu aku telah jatuh tenggelam ke kedalaman kamarku. Berusaha mencari-cari jawab. Mencari diriku. Juga dirimu.

Lalu sebuah pesan whatsapp berhamburan dinotifikasi hapeku beberapa hari berikutnya. Nomor itu asing. Tak ada dalam daftarku.  Ketika kubuka, sebuah tulisan terpampang di layar.

Maafkan aku jika membuatmu tak nyaman dengan pertanyaanku tempo hari. Aku tak bermaksud membuatmu merasa tertekan. Jika menurutmu aku belum layak dicintai, tak apa. Aku tak akan membenci dan tak pula bersedih hati. Aku hanya ingin kau tahu aku mencintaimu seyakin-yakinnya. Sekali lagi maafkan aku.

Layar hapeku seketika basah oleh tetes-tetes hujan yang dari tadi sudah menggantung berat di pelupuk mata. Aku tak sanggup lagi menahannya dan membiarkannya semua meruah, membanjiri tulisanmu dan menghanyutkan setiap hurufnya hingga larut ke palung terdalam di dadaku.

Pesan itu mengubahku untuk selamanya. Membuatku kini berbeda memandang diriku. Aku ternyata bukanlah debu. Aku juga bukan rumput tak berarti di pinggir terabaikan sebuah taman. Aku telah menjadi salah satu bintang yang diledakkan milyaran partikel bercahaya. Aku juga telah menjadi bunga yang mekar dalam hitungan kerjapan mata.

Aku menerimamu, maka bimbinglah aku.

Kubalas singkat pesan panjangmu itu dengan jemari yang gemetar dan air mata yang belum usai. Berharap kau membaca secepat aku menuliskannya.

Lalu kau memintaku bertemu di taman kota pada suatu sore yang sejuk dimana angin menyelisip lembut di antara daun-daun dan ranting pohon. Kau berdiri di ujung jalan setapak, menatapku dengan sepasang sorot mata yang menyimpan kedalaman rasa.

Aku melangkah gugup dan mendekatimu dengan segala kecanggungan. Aku memberanikan menatap matamu dan kudapati sepasang mata yang kemudian kuingat sebagai satu-satunya sorot mata yang memenuhi pelupuk mataku hingga saat ini.

“Kau menerimaku adalah sebuah anugerah,” katamu kala itu. Kita menyusuri jalan-jalan  kecil taman yang berkelok-kelok. Entah untuk ke berapa kali kita mengelilinginya. “Maukah kau menungguku sampai aku kembali?”

“Menunggu?”

“Aku akan pergi ke Kota,” jelasmu dengan raut muka yang muram. “Aku akan mencari pekerjaan di sana.”

“Secepat itukah?” Suaraku sama muramnya denganmu.

Kita menghentikan langkah di bahwa kanopi sebatang pohon. Berkas cahaya matahari sore menyeruak dari balik celah-celah daun dan menyirami kita dengan kehangatan. Tapi kita sudah sampai dimana kata-kata sudah tak mampu lagi mengutarakan isi pikiran.

Pagi berikutnya, kau mengirimiku pesan. Aku terlanjur membayangkan kau berdiri di depan pintu, melambai padaku dan mulai menjauh hingga ke ujung jalan.

Nisa, aku berangkat pagi ini. Maafkan aku tak sempat pamit. Aku titip cinta di hatimu. Ketika aku kembali nanti, sambutlah aku dengan tangan terentang, dan terimalah lamaranku.

Kabut berpendar di mataku. Sekali lagi dadaku sesak oleh rasa berjuta pelangi. Layar hapeku kembali basah. Aku akan menunggu. Aku membatin.

Awalnya hari-hari terasa bergulir cepat. Kita saling berkabar setiap hari. Kau cerita tentang perjuanganmu mencari pekerjaan. Kisahmu membuatku kagum sekaligus terharu. Kau laki-laki yang sungguh-sungguh. Setahun berlalu tanpa terasa.

Lalu sesuatu yang berbeda mulai muncul di tahun berikutnya. Kau mulai jarang mengirimiku kabar. Pesanmu juga singkat dan terasa sangat hambar. Ada desir yang berbisik di dadaku, mengatakan bahwa jarak mungkin telah membuat cintamu kini tak lagi sama. Hingga pada suatu hari yang diguyur hujan dan angin yang berkepusu, ketika aku memberanikan meneleponmu, nomormu sudah mati. Kau menghilang begitu saja. Meninggalkanku dalam kesunyian yang meremang.

Hari-hari setelah itu meneleponmu sudah menjadi ritual. Aku akan menunggu hingga suara operator itu selesai. Aku akan membiarkan dadaku dihantam rasa kosong yang semakin hari semakin pekat setelah semua panggilanku tak berbalas. Hingga pada akhirnya aku sudah terbiasa dengan khayalanku bahwa kau masih berdiri di suatu tempat, dengan sorot matamu yang kurekam dalam benakku, tersenyum dari kejauhan. Aku pun membalas senyuman itu dengan bulir mata yang pecah di sudut mata. Dan entah mengapa semua jadi terasa pahit.

Kadang pada suatu senja yang datang terlampau cepat, suara-suara yang entah datang dari mana, berbisik kejam kepadaku. Kau mungkin saja sudah menemukan cinta yang baru. Seorang wanita yang melebihiku dari segi apa pun. Aku mungkin sebuah kesalahan bagimu.

Tapi jauh di kedalaman yang suram, diriku yang rapuh terus percaya bahwa kau tidaklah seburuk itu. Kau mungkin saja disergap kemalangan hingga kau tak bisa lagi menghubungiku. Barangkali juga kehidupanmu di sana tak berjalan baik. Dan kau memilih diam agar tak mengecewakanku.

Pernah suatu waktu, ketika aku tak lagi mampu meredam suara-suara, dadaku mulai diamuk kebencian. Kau sungguh lelaki pengecut. Hanya berani memulai namun tak bernyali mengakhiri. Aku adalah perempuan yang serius mencinta. Sekali kulabuhkan rasa, aku akan abadi di sana. Tapi kau meninggalku begitu saja dalam kekosongan dan tanpa harapan. Kau telah berhasil membuat seluruh hidupku terasa sangat buruk.

Hari-hariku sejak itu adalah perjuangan melupakanmu dan segala rasa sakitnya. Meski aku yakin obat-obat itu tak akan membantuku bangkit dari keterpurukan, aku selalu mendengarkan nasehat dokter dengan khidmad.

“Kau suka menulis?” tanya dokter tanpa menoleh padaku. Matanya fokus pada lembar kertas resep dan menulis dengan cepat.

Aku mengangguk lemah. Mataku mengikuti gerak ujung pulpen.

“Cobalah menulis,” jelas dokter itu lagi. “Tulis apa saja. Mulai dari hal-hal kecil yang membuatmu tertawa. Atau mungkin yang paling kau ingin kau kenang.”

Maka demikianlah hingga aku sampai pada hari ini. Menulis menjadi tempatku untuk kembali ke lembar-lembar itu. Dengan menuliskan kisah ini, kuharap kau akan membacanya suatu hari nanti dan merasakan betapa buruk hidupku dalam kekosongan. Aku sangat hancur ketika kau tak dapat kuhubungi lagi. Jika suatu hari kau tiba-tiba muncul di balik pintu, mungkin dengan seorang istri dan beberapa orang anak, aku akan masih mengenangmu dengan sorot mata yang sama saat kali pertama aku menatapnya.

Related posts

Leave a Comment