Cerbung 

Rahasia Hitam Abak

SEPRIANUS | @seprianus5817 | seprianus81@gmail.com

Entah sampai kapan Ratih akan merindukan Mak. Meski sudah tiga tahun berlalu, Ratih selalu merasa kalau Mak baru saja dikuburkan. Itu yang membuat air matanya tak kunjung mengering. Juga kesedihannya. Terlebih ketika setahun setelah Mak pergi, Abak malah meminta pendapatnya soal mencari istri lagi.

Tentu saja Ratih tak akan pernah setuju. Baginya, Mak tidaklah mati. Mak akan selalu hidup di hatinya. Juga dalam pikiran dan kenangannya. Jadi, ketika Abak menanyakan pendapatnya soal menikah lagi, itu sama saja artinya Abak mengkhianati Mak. Itu jelas sangat menyakitkan. Tidak bagi arwah Mak saja, tetapi juga bagi Ratih dan kakaknya. Tahukah Abak kalau Mak juga ikut bernafas bersama degup jantungnya?

Tapi kini Ratih mungkin mulai paham keinginan Abaknya itu. Ia seharusnya mengabulkan saja permintaan Abaknya untuk menikah lagi. Bukan karena apa yang telah terjadi. Tapi mungkin inilah yang dimaksud Abak. Bahwa mungkin Abak hanya tak ingin menyusahkannya.

Sudah beberapa hari ini Abak terbaring saja di tempat tidur. Tak bisa bangkit. Tak bisa berdiri. Kalaupun dipaksa, pasti akan ambruk lagi. Bahkan untuk duduk pun tak bisa. Entah mengapa tiba-tiba saja separuh ke bawah tubuh Abak lumpuh dan mati rasa.

Mantri kampung pun diminta datang ke rumah. Katanya tak ada yang salah. Abak baik-baik saja. Karena capek dan faktor usia saja.

Sayangnya, Abak selalu menolak untuk dibawa ke rumah sakit. Abak juga tak mau diberi obat dokter walau hanya sekedar vitamin. Katanya obat dokter itu racun dan membuat tubuhnya tambah sakit. Dia hanya percaya pada ramuan-ramuan kampung yang kadang Ratih sendiri bingung mencarinya kemana. Abak pernah minta dibawakan remahan bunga mawar tujuh warna, jeruk purut yang tidak tua tidak juga muda, hingga bubuk kemenyan tujuh aroma. Pernah juga suatu hari Abak minta dicarikan darah ayam jantan hitam. Buat dilumuri ke kaki katanya. Meski terasa aneh, Ratih menuruti saja permintaan Abaknya itu.  Dan lebih anehnya lagi, Abak tak pernah membiarkan Ratih melihat bagaimana bahan-bahan itu digunakan untuk mengobati kaki Abak yang lumpuh. Setiap bahan-bahan itu diberikan, Abak selalu meminta Ratih keluar kamar dan menutup pintu. Dan Abak, bukannya membaik, kondisinya malah makin buruk.

Meski kadang Ratih mengeluh karena capek, mau tak mau Ratihlah yang merawat Abak sehari-hari. Mulai dari memasak makanan, melap badan Abak dua hari sekali, hingga membuang pipis dan berak dalam pispot yang ditaruh di bawah dipan.  Kakak Ratih satu-satunya, Uda Rusli, yang sudah menikah dua tahun yang lalu, tinggal di rumah istrinya di kampung sebelah. Berkunjung ke rumah untuk menjenguk Abak pun hanya sesekali. Sekali sebulan juga sudah terlalu sering. Maklum kerjanya jauh ke kota. Berhari-hari lagi baru pulang. Selain Uda Rusli, Ratih tak punya siapa-siapa lagi. Dengan Abak, Mak hanya punya dua anak semata.

Suatu malam, seperti biasa, setelah Ratih memberi makan Abak selepas maghrib, Ratih akan menunggu Isya sambil mengaji. Ratih pun mulai melantunkan beberapa ayat Alquran dengan khidmad. Ketika Ratih melafazkan ayat berikutnya, tiba-tiba saja dinding kayu kamar Ratih yang berbatasan dengan kamar Abak seperti dipukul orang dengan sangat keras. Ratih terlonjak kaget.

“BAK?” tanya Ratih memastikan.

Ratih cemas memanggil Abak. Mengira Abaknya terjatuh dan menimpa dinding. Ratih pun segera menutup Al-Quran dan melepaskan mukenanya. Dia segera berdiri dan berlari tergesa menuju kamar Abak. Ketika pintu kamar Abak dibuka, Ratih melihat Abaknya malah tertidur pulas. Ratih pun heran.

Suasana kamar Abak sangat temaram. Abak memang tak suka tidur dengan mati lampu. Namun juga tidak suka terlampau terang. Jadilah lampu gantung berwatt rendah dipasang di tengah kamar. Menciptakan suasana kamar yang suram dan menakutkan.

Sebuah lemari kayu berukir berdiri jauh di sudut kamar di belakang dipan. Menurut Ratih posisi lemari itu sangat tak biasa. Posisinya tidak dirapatkan ke dinding-dinding sudut kamar sehingga menyisakan celah gelap antara dinding dan lemari. Setahu Ratih, lemari itu sudah tertutup rapat sejak dia masih kecil. Dan seingatnya pula, Mak pernah berpesan jangan pernah mendekati lemari itu.

Ratih menyelidiki setiap sudut kamar. Tidak ada yang aneh. Tidak ada tanda-tanda kalau ada barang yang jatuh menimpa dinding. Dilihat dari pulasnya tidur Abak, tak mungkin rasanya Abak bangkit berjalan dan memukul dinding kayu di seberang dipan. Posisi dinding yang dipukul tadi cukup jauh dari dipan.

Pusing karena tak dapat mencari sumber suara pukulan tadi Ratih pun menutup pintu kamar Abak kembali. Ketika pintu merapat, seperti biasa, Ratih menyempatkan melihat Abak yang tertidur. Dia mengamati wajah Abak. Seketika rasa ibanya jatuh melihat tubuh laki-laki yang terbaring lemah di atas dipan itu hingga Ratih sampai mengabaikan sebuah gerakan samar dari balik celah yang gelap di belakang lemari. Pintu kamar pun ditutup dan Ratih kembali ke kamar, hendak bersiap tidur setelah menunaikan Isya.

Rasanya Ratih sudah tertidur cukup lama. Ketika dia membuka mata, pandangannya menangkap sosok perempuan berdiri di samping kakinya. Ratih tidak terkejut. Tidak pula takut. Setelah menajamkan matanya dalam kegelapan, Ratih dapat melihat sosok itu ternyata adalah arwah Mak. Mak berbalik ke arah pintu dan menghilang menembus pintu. Meski Mak tak bicara, Ratih seolah mengerti kalau Mak ingin Ratih mengikutinya. Ratih pun bangkit membuka pintu dan mulai mengikuti Mak yang berjalan pelan melayang ke arah kamar Abak. Mak pun menghilang lagi menembus pintu kamar Abak. Ratih pun segera membuka pintu itu.

Setelah pintu terbuka lebar, Ratih melihat Abak yang tertidur dalam kepayahan. Mulutnya menganga lebar menghirup udara namun seolah tak cukup-cukup muat di dadanya. Raut muka Abak tampak sangat kepayahan menghela nafas satu-satu seolah penyakit berat telah menggerogoti tubuhnya bertahun-tahun. Ratih juga heran tubuh Abak tampak lebih kurus dari biasa. Karena kondisi Abak itulah Ratih mengira arwah Mak datang untuk melihat kondisi Abak. Tapi ternyata Mak terus saja berjalan melayang melewati dipan seolah Mak tak melihatnya.

Mak kemudian berhenti di depan lemari di belakang dipan. Mak memutar pelan tubuhnya dan menghadap Ratih yang baru selangkah masuk ke dalam kamar. Perlahan Mak mengangkat lengan kanannya dan telunjuk mengacung ke arah pintu lemari kayu. Sesaat berikutnya pintu lemari terbuka pelan menghasilkan bunyi derit panjang yang menakutkan. Selagi Mak menunjuk ke bagian dalam lemari kayu, tiba-tiba sosok hitam keluar merangkak dari dalam lemari.

Betapa terkejutnya Ratih. Dia terjatuh ke lantai karena saking takutnya. Lututnya terasa sangat lemas. Bagaimana tidak. Sosok yang tiba-tiba saja keluar dari dalam lemari itu berwujud seperti wanita berambut panjang dengan wajah sepenuhnya tertutup oleh juntaian rambut panjang yang kusut masai. Kedua lengannya kurus tinggal tulang namun sangat panjang hingga dapat menyentuh lantai. Kedua lengan itu bergerak seperti kaki laba-laba raksasa, menyeruak keluar dari dalam lemari. Lalu tiba-tiba saja kedua lengan yang panjang itu membelit tubuh Mak dan Mak dengan keras ditarik ke dalam lemari. Pintu lemari itu dengan cepat menutup lagi. Menghasilkan bunyi debam kasar yang dipenuhi kemarahan.

Ratih pun berteriak sekuat tenaga minta tolong tapi suaranya malah tak keluar. Dia berusaha lebih keras lagi tapi sia-sia. Kesenyapan kamar menelan suaranya.

Ratih pun terbangun. Keringatnya mengucur deras. Dia kemudian bangkit dan duduk. Sempat ia melirik jam di dinding dan samar-samar jarum menunjukkan pukul tiga malam. Dia berusaha mengingat mimpinya barusan dan memahami pesan apa yang kira-kira disampaikan.  Apa mungkin arwah Mak ingin didoakan? Tapi mengapa menujuk lemari? Lalu siapakah sosok yang keluar dari dalam lemari itu?

Ratih pun segera bangkit dari tempat tidurnya bermaksud untuk melaksanakan sholat malam.  Ia akan mendoakan Mak. Seperti pesan mimpinya. Mungkin.

Ratih pun membuka pintu kamarnya dan berjalan melewati kamar Abak. Sempat teringat lagi kejadian dalam mimpinya Ratih pun membuka pintu kamar Abak. Dia memperhatikan seluruh bagian kamar. Hening seperti biasa. Hanya suara desah tarikan nafas Abak yang sesekali terdengar. Kemudian ia memberanikan diri mendekati lemari kayu itu, teringat Mak dalam mimpinya yang menunjuk ke sana. Lama Ratih memperhatikan lemari kayu itu. Mencari-cari apa ada sesuatu yang mencurigakan. Ketika Ratih meraih gagang pintunya, bermaksud untuk membuka, tiba-tiba sebuah suara terdengar begitu saja dari arah belakangnya berdiri. Suara itu serak menyeramkan, keras dan jahat. Jelas bukan suara Abak.

“JANGAN KAU BUKA!”

Ratih terhenti dan segera berbalik mendekati pintu kamar. Ia masih berharap yang bicara barusan adalah Abaknya. Tapi ketika dia melihat Abaknya yang tertidur, Ratih semakin heran dan mulai ketakutan. Apakah itu benar suara Abaknya?

Ratih meneruskan langkah ke arah dapur berusaha membuang semua pikiran buruknya. Ia juga mencoba menguatkan niatnya lagi untuk mengambil air wudhu ke kamar mandi dan melaksanakan sholat malam untuk mendoakan Mak. Tapi sayang, kamar mandinya terletak di dapur. Dan Ratih agak menyesalkan hal itu.

Ketika Ratih menekan saklar lampu dapur yang terletak di dinding samping pintu kamar Abak, entah mengapa lampu itu tidak menyala. Ratih sudah menekan berkali-kali tapi tetap tak mau menyala. Akhirnya dalam kegelapan yang samar, Ratih mencoba menajamkan pandangan. Dan ketika padangannya mengarah ke pintu dapur, matanya menangkap siluet sosok perempuan berdiri dari balik pintu dapur, memperlihatkan setengah sisi tubuhnya. Rambut perempuan itu terurai panjang dan sepertinya menutupi seluruh mukanya. Sosok itu sangat jauh dari perawakan Mak. Jelas sekali kalau itu bukan Mak. Seketika Ratih teringat mimpinya lagi. Apakah sosok itu yang keluar dari lemari kayu? Mungkinkah?

Ratih merinding. Dalam kegelapan itu, Ratih memberanikan diri memanggil. “Mak? Mak-kah itu?”

Tak ada jawaban. Juga gerakan. Sosok itu tak bergeming. Seolah menatapnya lekat-lekat dan tajam. Ratih mengurungkan diri meneruskan langkahnya ke dapur. Dengan segera ia berbalik arah menuju kamarnya lagi. Mungkin sholat malamnya nanti saja. Dia tak ingin sosok itu menakutinya sementara Abaknya tak bisa membantunya kalau susatu yang buruk nanti terjadi. Ratih pun bergegas membuka pintu kamarnya dan menguncinya rapat-rapat. Dia juga langsung membenamkan diri ke dalam selimut dan meneruskan tidurnya hingga subuh datang.

Bukan main senangnya Ratih ketika pagi datang bersamaan dengan pesan dari Uda Rusli di HP-nya. Uda Rusli akan datang pagi ini. Bersama anak dan istrinya. Uda Rusli mau menjenguk Abak dan akan menginap beberapa hari. Selesai subuh dan hari sudah agak terang barulah Ratih ke dapur. Seperti biasa menyiapkan makanan. Apalagi hari ini akan kedatangan tamu. Ia akan membuat lebih banyak makanan.

Tak sampai sejam setelah itu, Uda Rusli dan keluarganya sudah mengetuk pintu depan. Ratih pun tergopoh berjalan keluar dari dapur. Semua saling berpelukan melepas rindu. Setetes dua tetes air mata merebak di sudut matanya. Ia rindu sekali kakaknya itu.

Uni Rida, istri Uda Rusli tanpa diminta pun dengan segera membantu Ratih di dapur dan menyuruh Rusdi, anak lelaki semata wayangnya yang baru berumur lima tahun tidur di kamar Ratih. Rusdi benar-benar tampak lelah karena perjalanan yang cukup jauh ke sini.

“Tak apa-apa Rusdi dan Rida tidur bersamamu, Ratih?” tanya Uda Rusli segan.

“Uda ini seperti orang lain saja,” jawab Ratih. “Kalau bukan di sana, dimana lagi. Kamar cuma ada dua. Kamar Abak tak mungkin ditempati. Paling nanti Uda tidur di ruang tamu saja di depan tivi. Tak apa-apa?”

“Aku tak usah kau risaukan,” ujar Uda Rusli. “Aku bisa tidur dimana saja. Oiya, sudah berapa lama Abak tak bisa bangun itu?”

“Sudah dua minggu ini, Uda,” jelas Ratih sambil menyusun piring di meja makan dan menyalin nasi yang sudah matang. Uni Rida terus mengaduk gulai ikan yang sudah menggelegak dan menguarkan aroma gurih nan sedap. “Hanya saja, Abak itu  tak mau dibawa ke rumah sakit. Awalnya Abak masih baik-baik saja. Masih bisa bicara. Sekarang Abak malah jarang bangun. Abak jadi sering mengigau. Menyeracau tak jelas. Pas disentuh keningnya, anehnya Abak tak demam sama sekali. Uda bisa lihat kan, Abak semakin kurus saja. Setiap makan selalu tak berselera. Apa yang dikunyah semakin hari semakin terasa pahit.”

Uda Rusli diam sejenak. Ia tampak mencoba mengingat-ingat sesuatu. Namun tak yakin. Kadang wajahnya tampak ragu namun enggan memastikan.

“Apa Abak pernah meminta sesuatu yang aneh-aneh?”

Ratih teringat soal darah ayam itu dan beberapa permintaan aneh Abak lainnya di awal-awal sakit. Ratih mulai menceritakan semuanya. Meski awalnya ragu, Ratih juga mulai menceritakan tentang seorang yang memukul dinding kamar ketika ia mengaji, lalu tentang mimpinya bertemu Mak dan sosok perempuan yang dia temui di dapur ketika akan mengambil wudhu untuk sholat malam. Mendengar itu, Uni Rida bergidik ngeri. Setelah mematikan kompor, dia pelan-pelan ikut duduk merapat ke Uda Rusli, ikut mendengarkan dengan wajah ketakutan.

“Uda rasa ada sesuatu di kamar Abak,” kata Uda Rusli tertegun. “Dan sesuatu itu tampaknya tak suka kalau kau sholat malam dan mengaji.”

Ratih mengangguk setuju. Ia baru menyadari hal itu. Dugaan Uda Rusli tampaknya benar. Setiap Ratih mengaji dan sholat malam, seperti ada saja gangguannya. Sumbernya selalu dari kamar Abak.

“Apa menurut Uda, lemari itu kita buang saja?” tanya Ratih tiba-tiba teringat lemari yang ditunjuk Mak dalam mimpinya dan sosok yang keluar dari sana.

Sudah lama sebenarnya ia terganggu dengan lemari dalam kamar Abak itu. Sudah lama pula ia ingin membuangnya. Tapi ayah selalu bersikeras membiarkan. Selain posisinya yang aneh, ditambah pesan dari Mak untuk menjauhinya, Ratih merasa lemari itu seperti menyimpan sesuatu yang buruk. Tapi mengapa di mimpinya semalam Mak malah mengajaknya dan menunjuk ke arah lemari?

“Mungkin Mak ingin menyampaikan sesuatu lewat mimpimu.” Uda Rusli menyimpulkan.

Ratih berpikir hingga keningnya berkerut. Ia setuju dengan kesimpulan Uda Rusli. Namun tak kunjung menemukan jawaban, sesungguhnya apa yang ingin disampaikan Mak?

Malam datang lebih cepat dari biasa. Paling tidak itulah yang dirasakan Ratih. Tapi rumah sekarang ramai oleh Uda Rusli dan anak istrinya. Ini membuat Ratih dapat melupakan sebagian ketakutannya.

Ketika jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan semua orang sudah mulai terlelap, Uda Rusli masih menonton tivi sambil menunggu datangnya kantuk. Awalnya Uda Rusli hanya mendengar suara detak jam yang semakin nyaring seiring larutnya malam. Tapi lama-lama ia mulai mendengar suara gesekan tak teratur yang sepertinya berasal dari langit-langit area dapur yang dindingnya berbatasan dengan kamar Abak, tepat di belakang lemari kayu itu. Suara gesekan itu terdengar mirip seperti bunyi kertas yang digesekkan pada dinding. Uda Rusli juga sempat mencium semilir bau anyir yang bikin mual.

Semula Uda Rusli mengabaikannya mengira ada kain yang tertiup angin dan menghasilkan bunyi gesekan. Bau anyir yang diciumnya tadi juga dikira berasal dari bau isi perut ikan yang masih belum dibuang dari tong sampah di dapur. Namun Uda Rusli mulai merasa aneh ketika bulu kuduknya mulai berdiri. Udara terasa gerah dan agak mencekam. Bunyi itu juga semakin jelas dan sering. Ada unsur kesengajaan di dalamnya. Bau anyir pun menguar pekat.

Uda Rusli bangkit berdiri dan memberanikan diri menatap area gelap di salah satu pojok atas langit-langit dapur. Awalnya hanya kegelapan semata, namun matanya mulai menangkap sesuatu yang bergerak pelan. Uda Rusli mengira itu tumpukan kain yang tergantung di langit-langit, namun semakin dipandang, tumpukan itu membentuk siluet hitam yang mengerikan. Rambut hitam panjang terjuntai dari kepala, menutupi seluruh muka. Kedua tangan menempel pada langit-langit. Jika diperhatikan lagi, sosok hitam itu seperti merangkak di langit-langit dengan kepala mendongak tak wajar nyaris patah.

Segera Rusli menghidupkan lampu. Sekilas tampaklah wujud asli sosok itu. Seorang perempuan berpakaian lusuh dan compang-camping dengan postur badan mengerikan; kedua lengannya lebih panjang dari kaki, muka pucat berkeropeng dengan mata putih besar melotot menyorot tajam, yang tersembunyi di balik tirai rambutnya. Sosok itu dengan gesit namun canggung merangkak dari langit-langit menuju dinding yang membatasi kamar Abak dan menghilang meresap ke dalamnya seperti kabut hitam tipis.

Uda Rusli mengucapkan istighfar berkali-kali dengan suara dan tubuh gemetar.  Dia berlari menuju kamar Abak bermaksud mengejar sosok itu. Awalnya pintu itu tak mau terbuka. Uda Rusli kemudian  menendangnya, mengabaikan bunyinya yang keras.

Pintu menjeblak terbuka. Anehnya, Abak masih terlihat tidur seperti biasa, meski tampak lebih kepayahan dari sebelumnya. Abak sama sekali tidak terganggu oleh bunyi bantingan pintu yang keras itu. Uda Rusli mencari ke setiap sudut kamar. Sosok perempuan merangkak tadi seperti hilang begitu saja. Namun, ketika dia menangkap gerakan samar dari celah gelap di belakang lemari kayu, Uda Rusli berteriak sambil melafazkan ayat Kursi. Sosok hitam itu tengah bersembunyi di balik celah antara lemari kayu dan dinding di belakangnya. Mendekam di sana tak bergeming.

“KELUAR KAU! PERGI!” teriak Uda Rusli terus memberanikan diri.

Ratih, Uni Rida dan Rusdi terbangun karena bunyi gebrakan pintu dan ribut-ribut di kamar Abak. Mereka keluar dari kamar menuju ke sana. Merea semua ketakutan melihat Uda Rusli mencak-mencak seperti orang gila mencari-cari sesuatu dari celah gelap di belakang lemari kayu sambil membacakan ayat Kursi keras-keras.

Uni Rida menangis ketakutan sambil memeluk Rusdi yang membenamkan kepalanya ke tubuh Uni Rida karena ketakutan juga.

“Ada apa Uda?” tanya Ratih cemas dan panik.

“Kau benar Ratih,” jawab Uda Rusli terengah-engah dengan mata terbelalak. Uda Rusli jelas sedang berjuang membunuh rasa takutnya. “Seharusnya lemari kayu ini dibuang saja. Rupanya ada jin jahat bersarang di sini.”

“Dari mana Uda tahu?” tanya Ratih ketakutan.

“Kau lihat ada sosok hitam bersembunyi di celah belakang lemari?” Uda Rusli menunjuk ke arah sana.

Ratih menyipitkan matanya dan memfokuskan matanya ke celah gelap belakang lemari. Semula memang ada bayangan gelap. Tapi kemudian bayangan itu menghilang meresap ke dalam lemari. Ratih pun bergidik ngeri sambil membekap mulutnya. Kedua matanya terbelalak ketakutan. Kini Ratih dan Uda Rusli sama-sama telah menyaksikan bahwa sosok penghuni lemari kayu itu memang ada.

“Aku yakin, pasti ada sesuatu yang buruk dalam lemari ini,” kata Uda Rusli tegas. Ia kemudian bergegas ke dapur dan kembali ke kamar Abak sambil membawa linggis. Sementara itu Ratih, Uni Rida, dan Rusdi berdiri di luar kamar Abak saling memeluk erat menyaksikan Uda Rusli hendak membuka paksa pintu lemari.

Sesaat ujung linggis akan mencungkil pintu lemari, tiba-tiba saja Abak mengerang kesakitan. Dadanya membusung ke atas dengan rahang terbuka lebar tak wajar, seolah tangan tak kelihatan baru saja menarik keluar isi perutnya. Namun ketika linggis dijauhkan dari lemari Abak pun kembali pulas seperti semula. Uda Rusli, Ratih, dan lainnya saling melempar pandang ketakutan. Uda Rusli mencoba sekalli lagi dan Abak kembali mengerang-erang kesakitan. Uda Rusli akhirnya mengurungkan niat mencungkil pintu lemari.

Kini mereka berkumpul di ruang tamu di depan kamar Abak. Semua diam sambil berpikir langkah apa yang akan diambil. Mereka tak tahan melihat Abak mengerang kesakitan setiap lemari akan dibuka. Mereka ingin sosok jahat dalam lemari itu segera pergi dan tak mengganggu lagi. Tapi mereka seperti buntu tak tahu harus berbuat apa.

Lalu tiba-tiba Uda Rusli berdiri mengambil HP-nya yang terletak di atas meja depan tivi. Ia kemudian menelepon seseorang. Setelah bunyi bip berapa kali baru kemudian terdengar jawaban seseorang dari seberang sana.

“Atuk, saya mohon maaf malam-malam mengganggu,” kata Uda Rusli memulai. Suaranya masih terdengar panik dan gemetar. “Ini Rusli, Atuk. Saya lagi ada masalah. Bersediakah kiranya Atuk datang ke rumah Abak saya?”. Uda Rusli diam sejenak mendengarkan jawaban.

“Baik Atuk. Saya tunggu. Terima kasih banyak, Atuk.”

“Kita tunggu Atuk Zul datang ke sini,” kata Uda Rusli pada Ratih dan istrinya. “Mari kita semua ambil air wudhu dan mengaji.”

Tentu saja Ratih masih teringat dengan Atuk Zul. Sudah tua tentunya lelaki itu sekarang. Tujuh tahun lebih tua dari Abak yang sudah mencapai umur enam puluh lima tahun. Atuk Zul pernah mengajari Ratih mengaji waktu kecil dulu di mesjid dekat rumah. Begitu juga dengan Uda Rusli. Bahkan sampai sekarang pun Atuk Zul masih sering mengajar mengaji.

Namun Atuk Zul tak sekedar bisa mengaji. Ia punya kepandaian lain. Orang-orang kampung sering meminta Atuk Zul mengobati orang yang kesurupan jin, perempuan yang  diguna-guna, atau rumah yang diganggu makhluk halus. Tentu saja besar harapan Ratih dan Uda Rusli bahwa Atuk Zul dapat membantu.

Tak sampai setengah jam Atuk Zul pun datang. Uda Rusli membuka pintu dan meminta Atuk Zul segera masuk ke dalam rumah. Uda Rusli menceritakan semuanya dan membiarkan pintu kamar Abak terbuka lebar. Uda Rusli juga menceritakan apa yang dialami Ratih dalam mimpi. Atauk Zul mengangguk-angguk paham sambil melirik tajam ke arah lemari kayu seolah melihat sesuatu yang mengerikan di sana.

“Memang, ada sesuatu yang jahat dalam lemari itu,” ujar Atuk Zul. “Teruskan mengaji. Rusli, ambillah sesuatu untuk membuka lemari.”

Baik Ratih maupun Uni Rida segera melanjutkan bacaan Alquran yang sempat terhenti. Rusdi sudah kembali tidur di samping ibunya. Sementara itu Uda Rusli kembali mengambil linggis. Atuk Zul mendekati lemari dan berdiri sambil melipat tangan di depannya. Mulutnya lirih melafazkan ayat-ayat Alquran.

Lalu sebuah keanehan terjadi. Lemari itu bergetar hebat seolah sesuatu di dalamnya memberontak keras dan ingin lepas. Bersamaan dengan itu Abak pun mengerang kesakitan dengan dada membusung ke atas hingga tubuhnya melengkung. Rahangnya kembali terkuak lebar. Matanya terbuka terbelalak. Ratih dan Uni Rida sempat terhenti mengaji karena ketakutan melihat Abak.

“Jangan pedulikan Abak,” perintah Atuk Zul tegas. “Teruskan mengaji! Rusli, cungkil lemarinya!”

Seketika lemari berhenti bergetar. Detik berikutnya pintu lemari menjeblak terbuka, memperlihatkan sebuah tengkorak kepala manusia yang telah dilumuri bekas darah dan bubuk kemenyan. Di sekeliling tengkorak itu berserak remahan kelopak mawar dan beberapa buah jeruk purut yang telah lama mengering. Di sisi lain, Abak semakin kuat mengerang kesakitan. Tubuhnya menggelepar-gelepar.

Sembari terus melafazkan ayat-ayat Alquran, Atuk Zul pun mendekati lemari mengumpulkan semua benda-benda keramat itu. “Bawa semuanya ke halaman rumah. Bakar. Ratih, jangan berhenti mengaji. Biarkan Abakmu.”

Sebenarnya Ratih sudah tak tahan melihat Abaknya. Tapi karena Atuk Zul yang meminta, dia meneruskan mengajinya sambil menangis terisak.

Uda Rusli sudah membawa semua barang-barang yang ada dalam lemari itu ke halaman rumah dan menumpuknya pada satu tempat. Minyak dituangkan ke atasnya. Dengan tangan gemetar, Uda Rusli mulai menggerek korek api. Dari dalam, suara raungan Abak terdengar semakin keras dan menyedihkan.

Korek api djatuhkan ke atas tumpukan tepat di atas tengkorak. Api dengan cepat menyambar setiap bagian yang terkena minyak. Api pun berkobar, membubungkan serpihan bara ke udara. Bersamaan dengan itu, raungan suara ayah semakin keras. Terlihat tubuh ayah terguling-guling di atas dipan seperti ingin lepas dari rasa panas, meronta-ronta kesakitan. Ratih terus mengaji namun dengan tangis yang makin hebat. Uni Rida pun sama sambil terus memeluk Rusdi yang tidur dengan gelisah.

Uda Rusli terus menambahkan minyak ke kobaran api seperti yang diperintahkan Atuk Zul. Atuk Zul terus membacakan ayat-ayat. Dua jam berlalu tak terasa. Api mulai mengecil. Tengkorak dan bahan-bahan lain yang dibakar tadi kini sudah rata menjadi abu. Bersamaan dengan itu, Abak berhenti meronta kesakitan. Kini tubuh tua itu tampak ringkih dan bernafas satu-satu.

“Bisikkan syahadat ke telinga Abakmu, Ratih,” kata Atuk Zul miris. Ratih  segera mendekati Abak yang sudah sakaratul maut. Mata Abak sudah mulai memutih. Nafasnya satu-satu. Ketika Ratih membisikkan syahadat, tampak bibir Abak kepayahan mengikuti. Tak sempat syahadat itu selesai, Abak pun akhirnya pergi. Ratih menangis terisak lagi. Uni Rida datang memeluknya juga ikut menangis.

Sudah seminggu sejak kejadian malam yang mengerikan itu berlalu. Praktis kini Ratih benar-benar sendiri di rumah. Uda Rusli, seperti biasa, akan jarang ke rumah ini. Begitu juga dengan anak istrinya.

Tentu saja Ratih tak akan lupa cerita dari Atuk Zul tentang Abaknya malam itu. Sebelum Abak menikah dengan Mak, Atuk Zul sering mengajak Abak mengerjakan sholat. Tapi Abak tidak pernah mau. Atuk Zul memang sudah curiga sejak lama kalau Abak punya ilmu hitam. Sekali waktu Atuk Zul pernah bertemu dengan orang tua dari seorang perempuan yang pernah diguna-guna Abak jauh sebelum bertemu dengan Mak. Katanya, anak mereka disijundai (diguna-guna) oleh seseorang sampai mati dalam keadaan tragis. Atuk Zul tahu, Abaklah pelakunya.

Meskipun setelah menikah Abak tak pernah lagi melakukan hal-hal jahat itu, namun ilmu hitam yang melekat di badan dan jiwanya tidak akan pernah lepas. Sampai mati akan dibawa. Seperti paku yang tertancap pada kayu. Meski dicabut, bekasnya akan terus ada. Jin dan syetan yang diminta jasanya pasti akan terus minta imbalan. Paling tidak sesaji seperti darah dan bunga-bunga selama hidupnya harus dipenuhi. Ratih merinding mengingat itu semua.

Walau bagaimanapun, sebagaimana cintanya pada Mak, begitu juga cintanya pada Abak. Meski kata Atuk Zul dosa-dosa Abak tak terampuni, Ratih masih tetap mendoakan Abak di sela-sela ibadahnya.

Suatu malam ketika Ratih akan membaca Alquran setelah menunaikan shalat maghrib, sayup-sayup terdengar derit panjang dari sebuah pintu yang dibuka pelan. Ratih berhenti sejenak, menajamkan telinga. Derit itu masih terdengar dan seperti berasal dari kamar Abak. Mungkinkah lemari kayu itu terbuka dengan sendirinya? Ratih menepis pikirannya itu dan melanjutkan bacaannya. Namun derit itu terdengar lagi. Kali ini lebih panjang dan lebih menyedihkan. Penasaran dengan bunyinya, Ratih pun bangkit dari duduknya menuju kamar. Ratih tertegun sekaligus ngeri. Ya, kedua pintu lemari itu memang terbuka. Lemari itu sedang dibuka. Entah oleh siapa. Seketika berdesirlah darah Ratih. Tubuhnya meremang gemetar.

 

Related posts

Leave a Comment