Cerpen 

Mimpi-Mimpi Senapati

CERPEN: Sarah Monica

Angin menghembuskan hawa panas membara. Di luar, wajah malam merona menyala. Api dan asap menjulang dari pucuk-pucuk rumah maupun pepohonan. Percikannya menantang apa yang ada di langit dan di bumi. Senapati perlahan memperhatikan sekelilingnya. Dia mulai menyadari keberadaannya di sebuah kamar temaram, hanya diterangi oleh cahaya kemerahan yang menerobos dari jendela. Di hadapannya, sebuah ranjang menopang tubuh telanjang seorang perempuan yang tengah hamil tua. Perempuan tersebut menatapnya, lalu menunjuk ke jendela, ke arah potret kebakaran desanya.

“Itu tanggung-jawabmu,” ujarnya lirih. Tidak lama kemudian, dia menjerit tertahan, mengerang penuh kesakitan. Senapati segera berlari menghampirinya. Perempuan tersebut melahirkan bayi perempuan yang tidak menangis. Dia menyerahkan bayinya kepada Senapati, seraya berbisik, “Sekar.”
Senapati terhenyak. Napasnya memburu cepat. Matanya awas melihat ke sekitar. Dia berada di rerumputan, tepat di bawah kerindangan pohon asam. Senapati baru teringat, dirinya sedang beristirahat di sana sepulang dari ziarah ke makam sang ibu. Ternyata tadi dia bermimpi. Di kaki cakrawala, matahari telah condong ke barat. Senapati terheran-heran. Masih melekat dengan jelas detail mimpinya tadi. Terutama karena menemukan kekasihnya dalam wujud bayi yang baru dilahirkan itu. Sambil melangkah pulang, Senapati berpikir keras akan makna dari mimpi siangnya itu.
Sudah lebih dari tiga hari ini Senapati memang selalu meluangkan waktu untuk mengunjungi makam ibunya yang meninggal berbulan-bulan lalu. Dia membawakan bunga-bunga liar kesukaan ibu, lalu duduk di tepian makam. Berkeluh-kesah atas kondisi desa dan masyarakatnya yang kian tak menentu. Gambaran kebakaran dalam mimpinya adalah peristiwa nyata yang terjadi seminggu lampau. Muncul aksi-aksi perampokan rumah milik penduduk desa yang kaya. Sudah hampir setengah tahun ini sawah-sawah memang mengalami kekeringan dan rakyat banyak yang kelaparan. Sehingga, keberlimpahan harta bagi mereka harus dibagi rata dengan rakyat lain yang lebih membutuhkan.
Setelah merampok, orang-orang tersebut lalu mengelilingi desa dengan kudanya dan melemparkan sebagian pundi-pundi uang ke depan pintu rumah warga desa yang miskin. Namun demikian, aksi ini diikuti oleh banyak kelompok lainnya yang menggunakan cara kerja ‘pejuang keadilan’ untuk kepentingan diri mereka sendiri. Uang hasil perampokan biasanya lenyap di kedai-kedai minuman keras atau rumah-rumah perjudian. Akhirnya tidak lagi bisa dibedakan kelompok mana yang memang menyelamatkan rakyat atau menyengsarakan rakyat. Para hartawan desa, pemilik sawah atau perkebunan yang berhektar-hektar, gemetar membayangkan apabila perampokan tersebut terjadi di rumah mereka.
Nyatanya, kedatangan komplotan begundal tersebut tak pernah mampu diduga. Di malam yang terang bintang, kediaman keluarga Amarta ribut oleh jerit dan kegaduhan. Warga berhamburan keluar dari rumah untuk mengetahui apa yang terjadi. Terlihat pria-pria berkedok melarikan kuda mereka dari dalam rumah. Ketika melakukan aksinya, kawanan perampok itu terdesak oleh perlawanan tuan rumah yang dibantu para pelayannya. Mereka lalu melemparkan oncor bambu ke berbagai sudut yang langsung melahap habis bangunan tersebut. Kobaran api dengan segera menyalakan desa.
Seluruh kekacauan ini bukanlah tanpa sebab. Sejak kematian pemimpin kharismatik mereka, Datuk Arya, warga dan kehidupan desa menjadi kehilangan arah. Melalui Datuk Arya, apapun pertengkaran maupun konflik dapat diselesaikan. Dengan petunjuk Datuk Arya pula syarat berbagai upacara desa ditentukan dan dilakukan. Datuk Arya adalah jembatan mereka dengan semesta. Tidak ada permohonan yang akan cepat dikabulkan tanpa perantara Datuk Arya. Ketika Datuk Arya meninggal dalam tidurnya, warga desa geger. Sebab, Datuk Arya tidak mempunyai anak laki-laki. Tidak ada yang mewarisi legitimasi kekuasaan maupun kekuatan magis dirinya. Datuk Arya sendiri memperoleh ilmu tersebut turun-menurun menitis dari leluhurnya.
Walhasil, sekian lama rakyat belum bisa menentukan pengganti pemimpin mereka. Keresahan makin menjadi-jadi. Akhirnya, para tetua adat memutuskan untuk bersemedi di kawasan makam pembabat alas desa mereka selama 40 hari 40 malam. Demi mendapat petunjuk bagaimana memperoleh tokoh pemimpin baru. Di tengah pertapaan mereka itulah, timbul aksi perampokan untuk membela rakyat miskin, tetapi justru berujung pada teror dan kesengsaraan. Kebakaran yang terjadi dari kediaman keluarga Amarta merupakan puncak kerusuhan desa. Tepat di pagi harinya, para tetua turun dari ikhtiar semedi mereka.
Seluruh warga berkumpul di rumah adat untuk mendengarkan hasil jawaban semesta. Seorang tetua yang paling dihormati menyampaikan, “Kita perlu mengadakan pemilihan pemimpin desa dari pemuda-pemuda yang mau mencalonkan diri mereka.” Riuh suara-suara langsung memenuhi udara. Terkejut, tidak menyangka akan ada proses alih kepemimpinan semacam ini yang belum pernah terjadi sejak peradaban nenek moyang mereka.
“Lalu bagaimana kita mampu menentukan pemimpin terpilih tersebut, Pak Tua?” seru seorang lelaki paruh baya.
Sesepuh yang dipanggil Pak Tua itu menanggapi, “Melalui ujian mencari cincin bertuah di hutan keramat. Cincin itu milik leluhur pertama yang menghuni wilayah tempat kita tinggal ini. Bagi dia yang berhasil menemukannya akan menjadi pemimpin pengganti Datuk Arya serta memakai cincin tersebut sebagai tanda kekuasaannya.”
Serentak warga bergumam kaget, namun tidak ada yang berani membantah keputusan hasil pertapaan 40 hari 40 malam tersebut. Setelah itu, para tetua membuka kesempatan bagi siapapun pemuda desa yang ingin mengikuti tantangan tersebut. Ada enam orang yang menawarkan diri. Senapati yang juga berada di tengah kerumunan tersebut menimbang-nimbang apakah dia juga harus terlibat. Menurut pemikirannya, ini akan menjadi momentum yang berharga untuk menentukan arah hidupnya, sekaligus membuktikan diri sebagai sosok pemimpin kharismatik di desanya. Keputusan itu dengan demikian menempatkan dirinya sebagai orang ketujuh yang akan bersaing mencari cincin bertuah.
*
“Sekar, aku akan meninggalkanmu setahun-dua tahun untuk mengikuti sayembara Datuk Arya di hutan keramat,” Senapati menyampaikan maksud kepergiannya. Dia membelai rambut tebal kekasihnya yang menguarkan harum mawar.
“Batinmu belum cukup kuat dalam menghadapi gangguan gaib di hutan keramat. Kamu harus terlebih dahulu mengalami kepedihan yang meluruhkan kedirianmu,” ungkap Sekar dengan tatapannya yang dalam.
Sesaat Senapati tersinggung dengan cara Sekar berbicara. Perempuan itu memang keajaiban. Mungkin benar karena dia tidak langsung menangis ketika dilahirkan ke dunia. Bukan sekali-dua kali Senapati merasa pendapat Sekar ada benarnya. Terlebih, kata-katanya tersebut seringkali mampu menyentuh kedalaman hatinya. Entah karena kekuatan intuisi, ataupun kemampuan Sekar dalam melihat yang tidak terlihat.
“Mimpiku beberapa waktu lalu di mana kamu pun ada di dalamnya kuanggap sebagai petunjuk bahwa sayembara ini adalah pertarungan yang harus aku ambil,” ujarnya membela diri.
“Maafkan, aku tidak bermaksud menghalangi keputusanmu. Lalu bagaimana kalau aku merindukanmu saat kamu jauh di dalam hutan?” Mata Sekar berkaca-kaca.
Senapati segera memeluk kekasihnya tersebut. “Pergilah ke sungai Kemurnian. Tatap pantulan rembulan di permukaannya. Kau akan menemukan wajahku di sana,” lembut kata-kata Senapati menenangkan Sekar.
Mereka terus berpelukan sepanjang malam. Samar-samar merayap ketakukan di naluri masing-masing bahwa malam itu akan menjadi malam terakhir kebersamaan mereka.
**
Sudah hampir setahun ini Senapati mengembara di dalam hutan keramat. Tubuhnya begitu kurus, meski ekspresi wajahnya kian mengeras. Dia begitu kelelahan, bukan saja karena harus menaklukkan alam liar dan binatang buas, namun juga menghadapi muslihat makhluk-makhluk penunggu hutan tersebut. Belum lama dia menemukan salah satu tubuh pesaingnya hancur terjatuh dari jurang. Seorang lainnya ditemui terduduk di akar beringin dan terlihat telah kehilangan akalnya. Siluman penjaga hutan keramat terkenal karena kejahilannya menyamar sebagai manusia. Biasa mencelakakan atau menyesatkan manusia lain masuk ke dunia mereka.
Senapati sendiri meskipun memiliki beberapa amalan yang menyelamatkannya dari godaan makhluk gaib, tetap tidak dapat sepenuhnya terlindungi. Terutama ketika tidur di mana alam bawah sadarnya sering diintervensi oleh makhluk-makhluk itu. Pernah suatu malam yang ia begitu tak kuat menahan kantuk, Senapati bermimpi mayat-mayat bergelimpangan di tanah pedesaannya. Seperti habis terkena pembantaian massal. Lalu tiba-tiba satu persatu mayat itu bangkit dan mengejarnya. Saat Senapati tersadar dari mimpi, dia dapati dirinya tidur di atas dahan pohon. Ulah iseng penghuni hutan tersebut.
Hingga kini belum sedikitpun Senapati memperoleh petunjuk keberadaan cincin yang ia cari. Di malam-malam tertentu Senapati bersemedi untuk meminta pertolongan Sang Kuasa, namun hasilnya nihil. Di tengah rasa lapar, kantuk, dan kelelahan, Senapati seringkali membayangkan wajah Sekar. Merindukan perlakuan lembut serta pelukannya yang selalu membuatnya tenang. Pada lapisan batinnya, sedikit demi sedikit Senapati mulai menyesali pilihan hidupnya tersebut. Tumbuh keraguan mengenai apakah keputusan perginya ini memang untuk kemaslahatan desanya atau semata pembuktian ketangguhan diri. Yang jelas, keputusan itu sungguh-sungguh telah merenggut kebahagiaannya bersama Sekar.
Bulan-bulan selanjutnya, meski musim demi musim berganti, Senapati belum sedikitpun menemukan titik cerah. Kondisinya hampir mendekati keputusasaan. Apalagi pada perjalanannya beberapa minggu lalu, ia menemukan bangkai seorang kawan desa pencari cincin juga yang terkapar rusak dimakan hewan buas. Di tengah tekanan ujian, keraguan, dan kerinduan, Senapati mengistirahatkan tubuhnya sejenak di puncak salah satu bukit yang ia lewati.
Cahaya purnama begitu terangnya. Dedaunan, rumput, hingga air sungai jadi nampak berkilauan. Tiap benda memantulkan bayang-bayang dari sentuhan cahaya bulan itu. Tak lama terdengar air berkecipak dari tepian sungai. Senapati menajamkan matanya. Di sana ia mendapati kekasihnya, Sekar, sedang memainkan kakinya yang putih di atas permukaan air. Dia begitu khusyuk menatap pantulan bulan di sungai. Kemudian dengan perlahan Sekar mulai melantunkan syair kerinduan. Malam yang syahdu berubah sendu. Senapati terharu mendengarnya. Ia bermaksud menghampiri kekasihnya, tetapi tubuhnya lumpuh. Syair yang sungguh menyayat tersebut dinyanyikan Sekar berulang-ulang. Alam seakan bergetar merespons nyanyiannya. Sebuah sinar terlihat turun dari langit, menaungi Sekar. Dirinya lalu terangkat dari tepi sungai. Melayang semakin tinggi dan masih melantunkan syair rindu untuk kekasihnya tersebut. Sekar bergerak semakin jauh, semakin tak terjangkau. Senapati menyaksikan itu dengan pilu. Ia berteriak memanggil, namun suaranya bisu. Akhirnya, Sekar pun hilang ditelan ketinggian.
Begitu kalutnya, Senapati terbangun dengan air mata yang mengalir. Mimpi itu begitu nyata, hingga tangisannya menembus alam sadar. Belum reda Senapati mengatur gemuruh detak jantungnya saat tiba-tiba ia mendengar sebuah suara yang sangat ia kenal. Suara ibunya. “Pulanglah segera, Senapati,” perintah suara tersebut.
***
Setelah berminggu-minggu melakukan perjalanan kembali ke desanya, Senapati mendapati banyak perubahan terjadi. Jalan-jalan yang diperluas, pasar yang lebih ramai dari sebelum kepergiannya. Ketika warga desa melihat kepulangan Senapati, mereka tercengang dan mulai berbisik satu sama lain. Tetapi jikabertemu mata dengan dirinya, mereka akan bungkam, lalu memalingkan wajah. Kecewa dan lelah, Senapati langsung menuju kediaman yang sudah hampir 1,5 tahun ia tinggalkan. Rumah tersebut terlihat mengalami perbaikan di sana-sini. Seorang tua keluar menemuinya.
“Akhirnya kamu pulang. Dua penduduk desa yang turut mencari cincin bertuah sepertimu telah kembali beberapa bulan lalu. Mereka pun gagal,” sambut laki-laki yang seluruh rambut dan jenggotnya sudah memutih itu.
“Aku menemukan tiga orang lainnya dalam kondisi mati mengenaskan di dalam hutan keramat. Seorang lagi tidak pernah kutemui hingga sekembaliku ke sini,” sahut Senapati dengan nada patah hati.
“Tidak akan kembali. Seorang itu dibawa ke dunia makhluk lelembut. Melanjutkan hidupnya di sana,” jawab Pak Tua.
Senapati menghela napas lelah. “Lalu bagaimana nasib desa kita, Ki? Tanpa cincin bertuah, tak mungkin ada seorang pemimpin kharismatik pengganti Datuk Arya,” keluh Senapati.
“Tidak apa. Sudah setahun ini desa kita aman dari para perampok. Tidak lama setelah kalian pergi berkelana di hutan keramat, gerombolan perampok yang bekerja untuk rakyat menemui kami para tetua. Mereka menunjukkan identitas yang selama ini disembunyikan,” Pak Tua bercerita dengan pandangan menerawang. “Selain itu, mereka berjanji membantu mengamankan desa dari para begundal yang menyalahgunakan nama mereka. Sadar bahwa kekacauan yang merajalela juga berawal dari ulah mereka.”
Senapati mengangguk maklum. Dirinya masih terdiam. Ia ingin menanyakan keberadaan kekasihnya, namun urung.
Pak Tua yang bernama asli Ki Prabu tersebut dapat membaca kegelisahan hati Senapati. Ia menatap nanar, penuh simpati.
“Sekar begitu dicintai, tidak hanya olehmu, tetapi juga oleh pemilik semesta. Hampir setiap malam dia mengunjungi sungai Kemurnian dan melantunkan kerinduannya di sana. Alam turut bergetar mendengarnya. Hingga ia pun diangkat ke kerajaan langit. Apakah dia mengunjungimu dalam mimpi?” Ki Prabu menenangkan pundak Senapati yang berguncang karena tangis.
****
Rasa penyesalan dan kehilangan menghantam Senapati dengan dukacita mendalam. Ia kemudian memutuskan pergi dari desanya untuk bertapa di gua para leluhur. Senapati melakukan laku tapa dengan khidmat demi mencapai kebahagiaan sejati. Tanpa memperhatikan sudah berapa lama waktu berjalan, ia terus memusatkan pikiran pada penyerahan diri total sebagai tujuan hidupnya. Hingga suatu malam, ia melihat sebuah iring-iringan melintas cepat menuju guanya. Kepala rombongan mengucap salam, lalu menyerahkan bingkisan kecil. Saat ia hendak membukanya, mereka telah lenyap. Itu adalah cincin bertuah bermata merah yang bertahun-tahun lalu ia buru di hutan keramat. (*)

Sarah Monica adalah peneliti muda di Abdurrahman Wahid Centre for Peace and Humanities, Universitas Indonesia (AWCPH UI). Ia alumni Program MASTERA (Majelis Sastra Asia Tenggara) kategori Puisi pada 2017. Esai dan puisinya telah diterbitkan di sejumlah media cetak dan daring serta antologi bersama. Kini ia sedang menempuh studi di Pascasarjana Antropologi Universitas Indonesia.

Related posts

Leave a Comment