Puisi 

Umbu Landu Paranggi

Puisi Umbu Landu Paranggi ditulis oleh Mahwi Air Tawar pada 2014, diturunkan sebagai penghormatan kepada Umbu yang meninggal di Bali pada 6 April 2021 dalam usia 77 tahun. Umbu, yang digelari sebagai Presiden Malioboro, lahir di Sumba, pada 10 Agustus 1943. Dalam puisi ini, ada beberapa bait yang dielaborasi dari puisi penyair Iman Budhi Santosa, Emha Ainun Najib, WS. Rendra, Ragil Suwarna Pragolapati, dan Umbu Landu Paranggi.

Mahwi Air Tawar
UMBU LANDU PARANGGI

Kekasihku, di jalan ada perjumpaan dan sua kembali.
Tetapi kita berjalan sendiri-sendiri.
Kubawa ragaku menempuh kemegahan Suluk,
dan kamulah tembang laras Suluk itu.
Kau mengira aku pergi,
padahal aku mengembara di dalam dirimu.

Dialun kidung tembang laras
Umbu berlagu di tapal batas
Sumba, Sabana, berselempang rindu
Bunda terkasih sandaran kalbu

Di tujuh pintu sebelas kidung
Tujuh ketukan menderas petang
Tujuh kelokan cinta dan gandrung
Anak, cucu, dan pilu menggenang.

Murung hati sang Bapak meradang
Ditinggal berpacu anak tersayang
Ke laga rimba, laga usia nan rawan
Menyeberang gelombang laut selatan.

Suar sajak bening dan pedih
Nestapa sunyi terburai berserpih
Di tubir malam di tubir pagi
Umbu, Umbu Landu Paranggi

Senyap harap terdedah perih
Persada ditimang puisi gamang
Sabana dipeluk mesra berkobar
Umbu menderu batin terbakar:

Tebarkan cahaya di menara waktu
Tembusi untung malang nasibmu

Olideli! Olideli! Kudaku Janggi
Umbu Sumba Landu Paranggi
Umbu menderu Umbu berlari
Di baris hening nyanyi puisi.

Kami anak-anak rantau
Disekap nasib ketat dan parau
Impian kami seremang angkring
Peluh dan sunyi berteriak nyaring.

Kami pelbagai tanaman riuh
Sepanas secangkir minuman uwuh
Semak ilalang dari Imogiri
Menjadi segelas wayang sang resi.

Tuhan! Alangkah tak tertahankan
Ini tetek bengek kehidupan
Andai dari bentangan misteri
Kami tak Kau beri sebaris puisi!
Maka dengan puisi kami bertahan
Jalani ganas hari laut selatan.

Beliung bahasa menggali diri
Dalam meditasi serupa paderi
Babad dan abjad sepekat abu
Di Jogja, di Jogja segala termaktub
Menjelma saudara senadi serabu
dalam pelukan Persada Studi Klub.

Ragil Suwarna Pragolapati!
Meniti nyeri jeruji puisi
Mendekap harap Pati menanti
Tempe, bayem, nasi, dan ubi
Bersama doa hangat tersaji
Di meja makan kesunyian abadi

Olideli! Olideli! Kudaku janggi
menghela sangsai Malioboro
Canting terbakar lilin puisi
Sepanjang tugu ke Kadipiro.

Kami orang-orang terusir dan demam
Di sepertiga jalan, di sepertiga malam
di sepertiga goresan kalam.

Kami orang-orang terusir
Di sepertiga malam, di sepertiga takdir
Di sepertiga jalan, nasib mendesir
Dengan segala daya dan lapar
Kami buru nasib menggelepar
Gairah tersirap di gang-gang senyap
Di labirin harap kami kepakkan sayap

Terbang! Terbang! hasrat meninggi
Puisi tak pernah enggan mencari.
Linus Suryadi AG di bumi Mataram
Menjahit sobekan kelambu Pariyem
Menggelinjang di ranjang Pakualaman
Diremuk syahwat Sang Abdi Dalem.

Gending bertalu, gendingku rahayu
Linus menembang mainkan wayang
Karawitan sumbang Pariyem Umbu
Dicumbu puisi langit berbayang.

Duka dan rasa Iman Budi Santosa
Meluku sejarah tanah Jawa
Kuda Sumba meringkik di dada
Madahkan syair rama dan sinta.
Penyair dan pengamen tembangkan bolero
Tak putus-putus mewiridkan Malioboro.

Mata kami Malioboro
Hati kami Malioboro
Buku kami Malioboro
Puisi kami Malioboro

Maka, susurilah tubuh kami
Singkaplah tirai dan masuki kami
Meski diri kami centang perenang
dipenuhi jejak riang para pendatang.

Di dinding-dinding kusam
Ada secarik pesan rahasia
Terus digumamkan diam-diam
Nyaring bergema di puat dada:

Bagaimana belajar menjadi batu
Yang tak lapuk diterkam waktu.

Di gang belakang Pasar Kembang
Gadis-gadis mekar menanti kumbang:
Betapa, keperjakaan dan keperawanan
selusuh sehelai celana dalam
Malang dan untung saling berlawan
Prosa dan puisi terjang-menerjang
nilai-nilai bergulat di ranjang
Benar dan salah setipis kutang.

Di depan museum benteng Vredeburg
Emha Ainun Nadjib melawan pageblug
Gelandangan pun berdedang gayeng
Dalam suluk puisi Sang Kyai Kanjeng

Kepada engkau yang diam-diam
menyimpan kesengsaraan dalam kebisuan
Kepada engkau yang menangis malam-malam
Di resahnya batin karena kerap dikalahkan
Kerap diusir dan disingkirkan,
kerap ditinggalkan dan sulit menjumpa keadilan
Aku ingin bertamu ke lubuk hatimu, saudara-saudaraku
Untuk mengajakmu istirah ke lubuk paling sunyi
Untuk sejenak mengendapkan hati dan bernyanyi.

Sementara diam-diam,
dari stasiun kehidupan
Umbu berderap melintasi palang
Susuri jalur hening dan gamang
Susuri rel silsilah tanah kelahiran
Bersungkup cerobong tanah perantauan.

Olideli! Olideli! Kudaku Janggi
Umbu Sumba Landu Paranggi
Umbu menderu Umbu berlari
Di baris hening nyanyi puisi

Asap membubung ke angkasa Yogya
Di langit biru yang diharu-biru masalalu
Di kedai penjual nasi, puisi, dan cinta
Di atas tanah keluhan gempa dan rindu

Pertapa muda meraba stupa
Penyair nyinyir hembuskan dupa
Guru agung, Umbu nan dewa
Duh, penyair langit kesumba.

Sampai kapan haru-biru masa lalu
Memburumu ke padang-padang kelu
Seribu kuda Sumba berderap memburu
Langit batinmu yang terdedah selalu

Kudaku janggi, kudaku janggi
Umbu Sumba Landu Paranggi.

Di rimba raya hutan bahasa
Di dalam gua-gua sunyi puisi
Pertapa muda tundukkan kepala
Menggosok lumut di dinding hati.

Olideli! Olideli! Kudaku Janggi
Umbu mendaki lembah Merapi
Olideli, Umbu bernyanyi
Lagukan puisi gunung berapi.

Hembuskan nafas kuda Sabana
Bagi pertapa belia sengsara
Dengus dan makna bersalin rupa
Surai berkibar Umbu kesumba.

Penyair sunyi terbakar api
Di riuh nadi jantung puisi
Didera kelu masalalu
Merayakan pedih langit biru

Taji puisi mimpi mimpi
Mimpi taji puisi puisi
Sembunyi, sembunyi dalam diri
Di sela sempalan hati baiduri.

Dalam gusar hari-hari penyair
Samar kudengar Umbu berkabar
Ke laut selatan berhembus syair
Menyelinap ke helai-helai lontar
Waktu liurkan busa cerita ngungun
Dalam puisi-puisi fana dan anggun
Tentangmu, Umbu, jejakmu, Umbu
Tahun tujuh puluh lima yang kelabu.

Di kusam gang Pasar Kembang
Birahi dan puisi mencari arti
Riwayatmu gelisah menggelinjang
Gelandangan sejati mencari diri
Dalam kerja lumuran duka dan riang
Dalam hikmah rahasia melipur damai puisi.

Duh, Penyair! Pulangku ke Yogya menjadi rerasan publik
Kantor-gaji-jabatan kucampakkan. Anak-istri kutinggalkan
Kugelandangi Yogya tanpa KTP dan uang, berpuasa 55 bulan
Dari kawan ke kawan aku jualan khayal dan dustaku memelas
Sajak-sajakku mbludak, oleh sengsara dan kehidupan bebas.

Di manakah Umbu Landu Paranggi?
Aku yang berjalan resah di jalur puisi
Tak bisa mengelak runcing sosokmu Olideli
Yang terus ditancapkan ke batin generasi kini
Alangkah gelap mata, alangkah buta
Di bawah benderang kau punya cahaya!

Di manakah Umbu Landu Paranggi berdiam?
Adakah dia melintas batas lautan selatan
Menembus gelora samudera pasang
Menyebrangi ganasnya alun gelombang
Lanjutkan pelayaran, menyusul teman
Si penyulam layar kapal puisi kelam?
Di sana Ragil Suwarna Pragolapati
Moksa ke dalam baris-baris puisi.

Syair penyair
Penyair syair
Enggan berlari
Enggan berbagi.

Hidup memang fana, duhai Umbu
Tapi engkau menjelma waktu
Terus bersyair terus berlagu
Sampai bila, aku tak tahu.

Tapi siapa yang menyimpan getir
Di lubuk rahasia kalbu penyair
Masih terdengar panggilan mair
Dari tanah tandus tempatmu lahir.

Lonceng-lonceng yang bertalu,
memanggil belainya di tengah kesunyian
Asahlah pedang puisimu
Di sini, di medan pertempuran usia insan
Di titik kata penghabisan sekali
Pertapa muda sedia menanti.

Umbu, di titik nol dan kantor pos besar
Jejak dan surat-suratmu hangus terbakar
Puisi-puisimu tinggal rangka
Di desau angin tenggara.
Di punggung kuda Sumba
Penyair getir berpacu jiwa
Memburu bayang-bayang bahasa
Sebatas pandang sekedip mata.
Seakan waktu: hari-hari, tahun-tahun
Tak pernah bergulir, berdiam ngungun
dan penyair-penyair enggan
bertukar kabar getir rawan.

Dua sajak adik yang pertama berhasil untuk Persada:
Sajakmu untuk Sabana, sayang belum apa-apa.
Adik terlalu tergesa, kurang pengendapan,
dan minim sekali perbendaharaan kata.
Tapi, jangan putus harapan.
Satu bulan lagi asal adik terus berlatih
dengan keras pasti adik berhasil.
Sebab kemauan kamu besar, tapi masih belum tergali.
Sabana dengan Sabar menanti kehadiranmu.

Tapi kini surat-surat nasihatmu tersirat
Di Minggu penantian penyair nan pucat
Di punggung Persada dan padang Sabana
Kami menanti kematian di dada.

Kuamini kepergianmu, Umbu
Tinggalkan muram tanah Mataram
Suram mata penyair tambal-sulam
Melulu berharu-biru dengan hati beku
Emha Ainun Nadjib meniti jalan sunyi,
Iman Budi Santosa menziarahi tanah Jawa,
Linus Suryadi AG, Ragil Suwarna Pragolapati
Dan WS. Rendra bermuka-muka di alam baka
Diskusikan puisi-puisi Indonesia terkini didera nestapa:
Rendra melihat ucapan dan keprihatinannya
Membentur jidat penyair-penyair salon,
Yang bersajak tentang anggur dan rembulan
Sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya,
Dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
Termangu-mangu di kaki dewi kesenian.

Olideli! Olideli! Kudaku Janggi
Umbu berpacu di padang seni
Desah bisik nyanyian sepi
Menyanyikan gunung lembah puisi.

Di alam kubur sana,
WS. Rendra, Ragil dan Linus menerka-nerka
sebab-sebab kepergianmu dari Jogja
lantaran putus asa, tak sanggup Lahirkan puisi
yang membuat berdetak denyut nadi.

Bukankah puisi-puisimu lahir tercecer,
dan tak dikehendaki di tanah lahir?
Oh, Lihatlah, di labirin Persada
Berputaran Teguh Ranusastra Asmara
Lalu Ipan Sugiyanto Sugito merana
Bernostalgia di labirin kitab Sabana.
Maka, kuamini kepergianmu, Umbu
Sebab di gelanggang, Mingguan Pelopor Yogya
Sabana, dan Persada, lama luluh terserpih jauh
Menghilang di ketiak waktu, tak tersentuh.

Maka, kuamini kepergianmu, Umbu
Jauh ke selat Bali, ke pusat bisu
Memetik kidung kebeningan embun
Menyusuri jejak aksara ngungun
Menjaga kemurnian rasa dahaga
Dan lapar gamelan sukma kelana
Jika kematian kebahagiaan kayangan
Maka sia-sia derita mengempang raga
Masih misteri sisa warna matahari.

Olideli! Olideli! Kudaku Janggi
Umbu berpacu menunggang puisi
Di padang gersang Sabana menanti
Umbu, Umbu Landu Paranggi.

Antara ringkik kuda dan gumam puisi
Engkau timang angin harapan
Antara kerontang Sumba dan Selat Bali
Engkau timang nasib dan keberuntungan.

Kemarau Sumba yang kau rindu
Nafas tandus bunda tetap menanti
Nyanyian lelaki, berkuda di tepi hari
Di tebing gersang dan risau puisi
Melapangkan gerbang bagi petualang
Yang lupa mencari jalan pulang.

Olideli! Olideli! Kudaku bertolak
Kitari anak usiran sang Bapak
Di jantung rantau sajak berdetak
Dikoyak risau hati tak mengelak.

Di kaki bukit bahasa Sabana
Di sunyi puisi kalbumu berkelana
Sewaktu-waktu mesti berjaga dan pergi,
Membawa langkah kemana saja.

Di padang manakah engkau berpacu
Memburu hari-hari tak pasti
Menunggang kemarau berdebu
Masihkah kau daki terjal puisi.

Katamu, hidup tak pernah aman
Kapan pun di mana, cerah pun kelam
Duka dan bahaya selalu mengancam
Belas derita, kasih, rindu, dan cinta.

Olideli Olideli, tangismu membahana
Hangat mentari padang kasih Bunda
Jinak matamu meramu kelam tahta
Leluhur dan puisi berebut mahkota.

Tunas luka derita biarlah,
Tegak lurus tanah semadi
Di urat nadi puisi merekah
Dalam racikan puisi abadi.

Anakmu sayang, mengeja cita cinta
Agar ratap tak terhambur sia-sia
Kusesap udara puisi-puisi sabana,
Di sini, di lubuk sajak pengembara
Kurangkum Umbu
dan langit dukana.
Kepulauan Gili Yang-Cimanggis-Laut Selatan, 2014

Mahwi Air Tawar, lahir di Madura, 28 Oktober 1983. Bersama Iman Budhi Santosa dan Mustofa W Hasim, ia menyunting dan mengeditori buku sejarah kepenyairan Orang-Orang Malioboro (2014). Selain menulis sosok Umbu Landu Paranggi, Mahwi juga menulis tentang perjalanan sastrawan penting seperti Saini KM, Mustofa Bisri (Gus Mus), D. Zawawi Imron, Hamsad Rangkuti, dan novelis NH. Dini.

Related posts

Leave a Comment