Cerpen 

Suatu Sore Bersama Hadi

CERPEN: IWAN KURNIAWAN | @blogiwank

Stasiun-stasiun televisi ribut menyiarkan perebutan kursi ketua partai. Telepon genggam Robert, asisten Mas Iwan, berdering-dering terus. Para wartawan berebutan meminta waktu untuk mewawancarai bosnya. Robert menengok ke Mas Iwan, yang masih duduk di sofa menonton salah satu stasiun TV yang menayangkan acara bincang-bincang yang membahas hal tersebut.

Mas Iwan menggeleng. Robert berbicara di telepon. Ia meminta maaf dan menolak permintaan-permintaan wawancara itu.

“Jadi, menurut Anda, apakah tindakan Mas Iwan adalah sebuah kudeta?” tanya Ecka Winarti Prabandari, pembawa acara Telinga Ecka di TV Masuk Angin.

“Tentu tidak. Itu terlalu berlebihan. Kudeta itu kan pengambilalihan suatu pemerintahan,” kata Hayati Oktari, pengamat politik Open Univesity, kalem. “Ini biasa dalam politik kepartaian. Selalu ada upaya untuk mengguncang dominasi patron…”

“Tapi, ini intervensi,” Fajar Darma, peneliti politik di Lembaga Inikah Politik Indonesia, menyela.

“Sebentar, bung. Biar saya bicara dulu,” kilah Hayati.

Pertengkaran tak terhindarkan. Ecka kerepotan menghadapi dua pembicara yang saling beradu desibel itu.

Mas Iwan mematikan televisi yang berisik itu. Dia melihat jam tangannya. Pukul empat sore. _Saatnya untuk berangkat_.

Dia melempar kode kepada Robert, yang langsung mengangguk dan melangkah keluar.

***

Jenderal Purnawirawan Abdul Hadi Yasadipura adalah lelaki bertubuh tagap, tinggi, dan tampan. Di usia 70, tubuhnya lebih kokoh daripada tembok Berlin. Setiap hari dia berlari 10 kilometer dan 100 kali push-up sebelum sarapan dengan setangkup roti, pisang, dan semangkuk sayur-sayuran segar.

Hadi sedang mengurus beberapa burung peliharaannya di halaman belakang ketika Iwan tiba di rumahnya. Prabowo, ajudannya, menyuruh Iwan duduk di sebuah sebuah gazebo beratap ilalang di pelataran belakang. Sejurus kemudian Hadi sudah duduk di depan Iwan.

“Hidup ini pendek, Wan,” kata dia sambil membasuh tangannya dengan air di baskom yang disorongkan Prabowo. “Kadangkala kita harus memilih tindakan apa yang tepat yang akan menjadi warisan bagi anak-cucu kita.”

Kicauan murai batu, cucak rowo, dan jalak suren peliharaan Hadi bersahut-sahutan di tengah kesunyian di antara dua sahabat lama itu. Langit yang cerah dan udara yang segar tampaknya membuat burung-burung itu bersuka cita. Tapi, ketegangan menjalar di gazebo itu.

“Pilihan itu kadang tak banyak, kang mas. Tapi, kita harus tetap memilih di antara pilihan yang terbatas,” kata Iwan memecah kebisuan.

“Kau ingat ketika aku bertugas di Kalimantan? Saat itu aku tak punya banyak pilihan ketika bentrok antara orang Dayak dan orang Madura terjadi. Tapi, aku harus bertindak bila tak ingin pertumpahan darah bertambah banyak,” kata Hadi.

“Itu pengalaman tak menyenangkan. Tapi, ada yang aku selalu aku ingat dari Pontianak: choi pan,” katanya sambil tertawa. “Kau masih suka choi pan, kan?”

Dia lalu melambaikan tangan kepada Prabowo, yang kemudian datang membawa sebuah baki. Ada beberapa sebuauh mangkuk besar dan mangkuk-mangkuk kecil di atas baki itu. Ketika baki itu diletakkan di meja di antara mereka berdua, teranglah bahwa itu menu choi pan yang menjanjikan.

Hadi senang dengan choi pan ala Singkawang. Penganan dari kukusan campuran tepung beras dan sagu itu berisi bengkuang yang diiris tipis-tipis memanjang seperti batang korek api. Hanya itu. Dia tak suka tambahan ebi dan taburan bawang putih goreng di atasnya. Tapi, dia senang dengan sambalnya.

“Choi pan ini sederhana dan lembut. Begitu lembutnya sampai kau tak sadar sudah berapa potong yang kau telah makan. Hahahaha,” kata Hadi. “Ayo dicoba. Ini kupesan langsung dari Singkawang.”

Sambil menyuap potongan choi pan, Hadi mengenang lagi pengalaman pertamanya mencoba penganan itu di sebuah kedai milik seorang Tionghoa di tepi kota. Pada mulanya dia ragu-ragu untuk mencobanya tapi ketika melihat anak-anak buahnya makan dengan lahap, akhirnya dia mencoba juga. “Sejak itu aku sulit melupakannya. Aku sudah kena santet Singkawang,” katanya tergelak.

“Choi pan di Pasar Jumat lebih enak lagi,” kata Iwan sambil melahap potongan choi pan di mangkuknya.

Hadi sejenak tertegun tapi kemudian tertawa. “Semua choi pan sebenarnya sedap. Penganan ini tak serumit rendang.” Dia tertawa lagi.

Iwan melirik sekilas. Dia selalu ingat pada seorang gadis Tionghoa di Pasar Jumat yang pernah membetot perhatian Hadi. Istri Hadi mencak-mencak ketika mengetahui hubungan mereka. Gadis itu minta perlindungan Iwan ketika suhu di rumah itu memanas. Iwanlah yang kemudian membawa gadis itu pergi ke Palembang untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan. Iwan tidak tahu apakah Hadi tahu di mana gadis itu kini. Tapi, dia yakin Hadi pasti dengan mudah menemukannya, mengingat matanya ada di mana-mana.

“Choi pan bisa membuatmu terlena atau kau sengaja terlena padanya.” Kata-kata Hadi bersayap.

Iwan mengangguk. “Ya, aku pernah makan sepuluh potong saking keasyikan.”

Hadi tertawa. “Begitu juga pilihan yang kita ambil. Kadang kita terlena karena pilihan itu begitu menyenangkan, membuat kita mabuk dan lupa bahwa ada pilihan lain yang lebih bijak sebenarnya,” kata dia seraya mengambil sepotong choi pan lagi.

“Aku tahu seberapa banyak choi pan yang bisa kau makan agar kelezatannya tidak sirna,” kata Iwan. “Lagi pula, choi pan tak akan membuat kita mabuk. Pembuatnyalah yang membuat kita ingin mencarinya terus,” kata dia seraya tertawa.

***

Pertemuan itu berlangsung sebentar saja. Selesai melahap potongan choi pan kelima, Iwan berpamitan. Hadi mengangguk. Prabowo kemudian mengantarnya ke depan.

Dalam mobil Alphard yang dikemudikan Narto meluncur mulus di jalan tol. Jalan itu kosong padahal ini sudah jam orang-orang pulang kantor. Narto memacu mobilnya agar segera tiba di rumah sebelum matahari terbenam. Iwan masih mengingat lagi percakapannya dengan Hadi. Dia meraba-raba pesan yang disampaikan serdadu tua itu. Ketika dia masih mengurai kata-kata Hadi, sebuah suara seperti ledakan pecah. Mobil itu seperti membentur tembok raksasa. Tubuhnya terdorong ke depan. Setelah itu semuanya menjadi gelap.

[*]

Related posts

Leave a Comment