Puisi Hisyam Billya Al-wajdi


Rumput

Namaku rumput. Aku dilahirkan dari tunas ibu yang telah mati layu. Kini aku tinggal di pinggir jalan hari-hari kuhabiskan dengan bersitahan dari hawa panas yang membakar dan hibuk perkotaan. Di pagi hari biasanya aku disuguhi kepulan asap kendaraan, bising klakson jalanan atau kemacetan yang menjalar dari ujung ke ujung.

Aku rumput yang sebentar lagi dipangkas oleh petugas, katanya aku ini liar dan musti di berantas, wajahku menganggu keindahan kota, pakaian yang membalutku ku mungkin hijau namun bukan berarti aku alami. Tata ruang kota tak lagi membutuhkan aku, mereka lebih suka dengan robot-robot sintetis yang lebih rapi, lebih harmoni dan mudah di kloningkan .

Aku rumput, tanaman liar yang sering di bunuh tanpa alasan yang bisa di pertanggungjawabkan. Aku rumput. Cita-citaku sederhana, melewati malam dengan guyuran hujan dan menyaksikan pagi yang disirami matahari.

2020

Related posts

Leave a Comment