Puisi Hisyam Billya Al-wajdi

Rumput Namaku rumput. Aku dilahirkan dari tunas ibu yang telah mati layu. Kini aku tinggal di pinggir jalan hari-hari kuhabiskan dengan bersitahan dari hawa panas yang membakar dan hibuk perkotaan. Di pagi hari biasanya aku disuguhi kepulan asap kendaraan, bising klakson jalanan atau kemacetan yang menjalar dari ujung ke ujung. Aku rumput yang sebentar lagi dipangkas oleh petugas, katanya aku ini liar dan musti di berantas, wajahku menganggu keindahan kota, pakaian yang membalutku ku mungkin hijau namun bukan berarti aku alami. Tata ruang kota tak lagi membutuhkan aku, mereka lebih…

Read More

Aku Pernah Membayangkan:Puisi Hisyam

Aku Pernah Membayangkan Aku pernah membayangkan diri menjadi seorang raja di kota venesia,duduk diatas singgasana berlabis emas sembari menyaksikan sore dengan lanskap gondola yang berjalan perlahan. Aku juga pernah membayangkan diri menjadi nelayan kecil yang berangkat melaut saat fajar menyingsing dan pulang ketika matahari mulai tenggelam.Berjalan menuju rumah mengendong rasa lelah dan memasang raut wajah orang yang kalah karena tak membawa hasil tangkapan seekorpun juga. Aku juga pernah membayangkan diri menjadi seorang bajak laut mengarungi lautan,menaklukan gelombang dan memandikan diri dengan asin garam.Menjadi bajak laut yang disegani sekaligus di takuti,menghabiskan…

Read More

PUISI-PUISI HISYAM BILLYA

  IKALIKAL MR.2 Tak ada kata perpisahan di kehidupan okama Bon chan,gerbang keadilan itu hampir sempurna,memisahkan kita Kapal dan meriam tak lagi menghujani Bon chan- Aku slalu percaya Serbuk-serbuk di Alabasta -Nyawamu matahari Nyawaku bintang-bintang Dan daun Murbei itu terlepas Aku akan bergegas Bon chan Aku percaya bahwa ada bunga yang tumbuh di neraka, di laut yang jauh ini,kau… Mengutup arahku Jinakan angin dan gelombang Bon chan,gerbang akan tertutup Slamat tinggal Arigatou 2020   Di (mizi) don quixote Kincir itu seperti dawai,memetik lembut angin “Kita harus beranjak sancho” Langit tak…

Read More