Diah Hadaning, Penyair “Serba Tujuh”

Saya mengenal nama Diah Hadaning (DH) pada 1978, ketika mulai mencoba-coba mengirimkan sajak ke media. Kala itu, saya tinggal di kampung, selepas dari SMA. Nama yang puitis itu saya temukan di Mingguan Swadesi. Bagi penulis pemula yang tinggal di desa, di Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah, kolom puisi Swadesi cukup menggoda untuk menjadi salah satu media publikasi. Dua tahun kemudian, 1980, saya bertemu langsung dalam sebuah acara sastra di Harian Berita Nasional (Bernas), Yogyakarta. Saat itu saya sudah kuliah di Yogya dan aktif menulis di media massa, termasuk di Bernas.

Read More